Menantangbadai Weblog


Misteri Sungai Bah Tongguran di Desa Tangga Batu, Hatonduhan, Kabupaten Simalungun (1)
Juli 25, 2008, 1:26 pm
Diarsipkan di bawah: STRIGHT NEWS

Ramai-ramai Mencari Harta

Karun Peninggalan Belanda 

 

 

Sejak tahun 1970-2006, Sungai Bah Tongguran di Desa Tangga Batu, Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, telah menjadi incaran para pencari harta karun. Entah sudah berapa banyak tim melakukan pencarian, termasuk tim elit TNI dari Korps Pasukan Khusus (Kopassus) yang terjun tahun 1984.

Alvin Nasution- Bah Tongguran 

 

 

Sungai Bah Tongguran menyimpan misteri yang belum terpecahkan hingga sekarang. Padahal, sejak tahun 1970-an, sungai yang berhulu dari Gunung Simanuk-manuk dan Gunung Simbolon ini sudah diekploitasi untuk mencari harta karun. Kata penduduk setempat, jika harta itu terkuak, akan mampu membayar lunas hutang-hutang Indonesia.

 

Sungai Bah Tongguran dipercaya menyimpan barang-barang berharga seperti senjata-senjata organik; mortir, bayonet, granat nenas, dan bom pompa. Tapi yang paling berharga adalah emas-emas batangan, permata, berlian, keramik-keramik kuno, serta uang-uang perak. Bahkan ada emas sebesar kepala kerbau. Matanya terbuat dari berlian dengan sepasang tanduk dari perak.

 

Namun, misteri harta karun itu belum terungkap. Tapi penduduk memercayai harta itu ada. Nah, Saya Alvin Nasution, yang turun ke Sungai Bah Tongguran beberapa waktu lalu mencoba mengungkap tabir yang terkandung di sungai yang lebarnya hanya sekitar 6 meter dengan kedalaman sekitar 3 meter itu. Sungai itu dikelilingi hutan-hutan rawa yang masih perawan.

 

Untuk turun ke lokasi sungai, diperlukan waktu sekitar 45 menit. Sebab harus menuruni lereng dengan keterjalan sekitar 75 derajad, lalu menyusuri sungai berbatu yang dihuni ikan-ikan jurung. Tak heran sungai itu juga menjadi incaran para pemancing jurung dari berbagai penjuru desa.

 

Untuk menuruninya lereng yang terjal itu harus ekstra hati-hati. Saya sendiri harus dipandu tiga orang warga setempat; Sunarto (50), Suparman (37) dan Irfan (21). Irfan adalah cucu seorang ‘Jenderal Lapangan’ pencari harta karun.

 

Inilah cerita yang saya kumpulkan dari sejumlah sumber yang ditemui selama seminggu berturut-turut. Terutama dari Pak Kamis (70) warga Sidoaman, Desa Tangga Batu, yang sejak tahun 1970-an sudah ikut mencari harta karun tersebut. Pak Kamislah dinobatkan sebagai ‘Jenderal Lapangan’, sebab beliau adalah salahsatu orangtua yang masih hidup selama pencarian harta karun.

 

Selain itu masih ada nara sumber dari seorang pensiunan polisi, K Nainggolan (65) warga Perumnas Batu Anam, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. Semasa bertugas di Polres Simalungun, K Nainggolan (65) tergabung di kesatuan intel. Ia mengintai setiap orang yang mencari harta karun dari balik hutan. Termasuk ketika pasukan ‘baret merah’ melakuan pencarian dengan peralatan modern. K Nainggolan juga dibantu dua temannya yang juga anggota Polri (namun telah meninggal). Di situlah K Nainggolan bertemu dengan Pak Kamis dan kemudian sama-sama melakukan pencarian. Termasuk menginap di hutan berbulan-bulan.

 

Kata K Nainggolan serta sejumlah penduduk yang ikut terlibat pada pencarian harta tersebut, cerita harta karun dimulai tahun 1942. Pada masa itu tentara-tentara Belanda mulai terpukul mundur dari bumi Indonesia setelah mendapat perlawanan sengit dari pejuang-pejuang kemerdekaan. Pulau Jawa sebagai sentra pemerintahan perlahan diambilalih tentara-tentara Indonesia.

 

“Dalam kurun tiga tahun (1942-1945) tentara Belanda mulai menarik diri dari Pulau Jawa dan daerah-darah lain. Mereka (tentara Belanda) terdesak lalu mundur dan mengambil tempat aman untuk berlindung. Nah, daerah Sumatera Utara adalah pilihan yang tepat. Sebab, banyak perkebunan milik mereka di Sumatera Utara,” kata K Nainggolan membuka pembicaraan ketika ditemui di rumahnya yang sederhana di Perumnas Batu Anam, Kecamatan Siantar.

 

Kata K Nainggolan, Mundurnya tentara Belanda dari Pulau Jawa tidak dengan tangan kosong. Mereka turut membawa persenjataan organik dan barang-barang berharga yang terkumpul selama menjajah Indonesia. Barang-barang berharga itu diangkut dengan menggunakan truk-truk tentara melalui jalan darat. 

 

“Selain faktor banyaknya perkebunan, daerah Sumatera Utara dianggap lebih kondusif. Perlawanan pejuang-pejuang tidak sehebat di Pulau Jawa,” tukas purnawiraan Polri terakhir berpangkat Aiptu ini lagi.

Diteruskannya, setelah tentara Belanda tiba di Sumatera Utara, mereka mencari lokasi strategis untuk berlindung, dan pilihan yang tepat adalah Kecamatan Hatonduhan, Kabupaten Simalungun, tepatnya di Blok 18 Desa Tangga Batu. Di daerah itu Belanda punya lahan perkebunan yang cukup luas. Cerita harta karun pun berawal.

 

Setelah mendapatkan informasi berharga dari K Nainggolan, saya disarankan menemui Pak Kamis. Namun untuk mencari Pak Kamis taklah gampang. Saya harus bertanya ke sejumlah penduduk Desa Tangga Batu, termasuk kepala desa setempat. Beruntung ketika ke Desa Tangga Batu, saya bertemu dengan Oppung Asima Sinaga (70) di perbatasan Kecamatan Hatonduhan-Dolok Panribuan. Oppung Asima adalah warga Kecamatan Dolok Panribuan, yang menjadi salahseorang pekerja pencari harta karun sejak tahun 1984.

 

Namun sebelum bertemu Pak Kamis, saya menyempatkan diri bertemu dengan Kepala Desa Tangga Batu, W Manurung. Awalnya kedatangan saya tidak disambut baik oleh sang kepala desa. Kepala desa yang sudah 12 tahun menjabat itu menutup rapat informasi tentang pencarian harta karun tersebut.

 

“Saya tidak tahu soal harta karun bah! Saya tidak pernah ke lokasi,” kata W Manurung ketika ditemui di kantornya.

Namun setelah didesak, W Manurung akhirnya membeberkan, pencarian harta karun itu sudah dimulai sejak tahun 1970-an. Bahkan katanya, Bupati Simalungun pada masa itu, JP Silitonga, pernah turun ke lokasi. JP Silitonga yang ditemani Dandim dan sempat kehilangan sepasang sepatu kulitnya.

“Cerita itu memang ada. Saya juga mempersilahkan orang-orang jika ingin mencari harta itu. Saya juga sudah pernah turun ke lokasi (saat itu masih menjabat sekretaris desa). Tapi soal ada dan tidaknya harta itu saya tidak tahu,” tukasnya. (bersambung)



Tak Ada Yang Bisa Larang Polisi Masuk Kampus
Mei 25, 2008, 5:09 pm
Diarsipkan di bawah: STRIGHT NEWS

Mabes Polri menegaskan polisi tidak melakukan penyerbuan ke dalam kampus Universitas Nasional, Jakarta Selatan. Kejadian sebenarnya, polisi masuk ke kampus untuk menangkap pelaku tindak anarkis.

 

Perbuatan mahasiswa tersebut dianggap mengg -anggu ketertiban dan kenyamanan masyarakat di sekitar kampus Unas. Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Abubakar Nataprawira, mengatakan tindakan anarkis itu telah membuat kaca dan genting sejumlah rumah dan warung makan sekitar Unas, pecah.

 

“Tidak ada yang bisa melarang polisi untuk masuk ke kampus. Pengejaran polisi berakhir hanya saat sang pelaku masuk ke dalam kantor kedutaan besar dan dia sudah menyerah. Apa yang salah jika polisi masuk ke kampus untuk mengejar pelaku tindak anarkis yang sudah menyebabkan rumah penduduk dan rumah makan rusak?” ujar Abubakar kepada wartawan di ruang humas Mabes Polri, Minggu (25/5).

 

Sebelumnya, beredar kabar, polisi melakukan penyerbuan ke dalam kampus universitas tersebut. Bahkan menurut Komnas HAM, polisi telah melakukan pelanggaran HAM dalam kericuhan aksi unjuk rasa di Kampus Unas, Sabtu (24/5). Sebab, ada penyiksaan yang dilakuka n secara terorganisir saat polisi mengumpulkan mahasiswa di lapangan bola.

 

Komnas HAM menyesalkan pimpinan aparat kepolisian yang tidak melakukan koordinasi dengan pihak kampus terkait ketegangan antara mahasiswa dan pihak kepolisian, dengan mengambil lang kah sepihak. (kdt)

 



Tarif Angkutan Naik Minimal 15 Persen
Mei 25, 2008, 4:49 pm
Diarsipkan di bawah: STRIGHT NEWS

 

Salahsatu sektor usaha yang terkena dampak langsung kenaikan harga BBM adalah jasa transportasi. Karena itu, pengurus Organisasi Pengusaha Angkutan Darat (Organda) se-Indonesia kemarin membahas dampak kenaikan harga BBM 28,7 persen terhadap usaha mereka di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, tadi malam.

 

Pada pertemuan itu beberapa perwakilan menuntut BBM angkutan tidak dinaikkan. Sebagian meminta diizinkan menaikkan tarif minimal atau di atas 15 persen. ”Ada beberapa hal yang dibicarakan terkait tarif angkutan setelah harga BBM dinaikkan pemerintah,” ujar Ketua Angkutan dan Prasarana Organda Rudy Tejamihardja saat dihubungi tadi malam.

 

Menurut Rudy, beberapa perwakilan meminta pemerintah mengizinkan Organda menaikkan tarif lebih dari 15 persen untuk menutupi beban BBM. Dia mengaku belum ada kesepakatan tentang rencana melakukan demo jika tuntutan itu ditolak.

 

Penolakan lebih tegas disampaikan Sekretaris Organda DKI Jakarta T.R. Panjaitan. Menurut dia, Organda se-Indonesia harus menuntut agar harga BBM angkutan umum tidak ikut dinaikkan. Alasannya, angkutan umum terkait langsung dengan kebutuhan dasar masyarakat luas. ”Apa pun nama kebijakannya atau dasarnya, BBM untuk angkutan seharusnya jangan ikut dinaikkan,” lanjutnya.

 

Dia mengatakan, Organda menuntut agar pemerintah menghilangkan retribusi dan pajak angkutan umum di daerah. Dia menegaskan, Organda akan mengirim surat kepada presiden untuk menyampaikan tuntutan tersebut. ”Bila dalam waktu lima hari pemerintah tidak bereaksi, Organda menganggap pemerintah setuju dengan tuntutan kami. Sebaliknya, jika pemerintah menolak tuntutan Organda, kami akan mogok,” tegasnya.

 

Sebelumnya, Menteri Perhubungan Jusman Syafii Djamal mengatakan, kenaikan harga BBM masih bisa diantisipasi dengan kenaikan tarif paling tinggi 15 persen. Jusman beralasan, akibat kenaikan harga BBM 28,7 persen akan berimbas pada kenaikan biaya pokok angkutan sekitar 15 persen. Angkutan pelat kuning juga akan di-backup dengan smart card.

 

Kan ada pendekatan smart card untuk roda dua dan angkutan umum berpelat kuning. Sebetulnya kalau dia kuotanya sesuai dan tidak melebihi kuotanya, dia itu membeli BBM seharga yang tidak naik (dapat subsidi). Kalau melebihi kuota, baru dia beli sesuai harga perkonomian,” paparnya.

 

Mengenai waktu kebijakan kenaikan tarif angkutan, kata Jusman, akan dikeluarkan seminggu sampai dua minggu setelah pengumuman harga BBM baru. ”Tadinya saya mengajukan kenaikan tarif bersamaan (dengan kenaikan harga BBM), namun tidak diizinkan,” tandasnya.

 

Mengenai tuntutan Organda yang ingin menaikkan tarif paling rendah 15 persen, Menhub akan mencarikan titik temu. Menurut dia, cara yang akan ditempuh adalah menetapkan tarif batas bawah dan tarif batas atas.

 

”Misalnya, kita terapkan batas bawah 5 persen, batas atas 20-25 persen. Pasti ada bus yang kalau dinaikkan tiketnya malah enggak ada penumpangnya. Nanti perusahaan bus ada yang efisien dan ada yang tidak efisien, juga angkutan umum,” katanya. (wir/iw/jpnn)

 



Pembunuh Kekasih Ditangkap
Mei 18, 2008, 4:13 pm
Diarsipkan di bawah: STRIGHT NEWS

Pelaku Mengaku Didatangi Arwah Korban

 

Kematian Mariana, gadis 21 tahun yang ditemukan tewas di lintasan rel kereta api Lingkungan III Selawan Mutiara Kisaran, Senin (14/4) silam, terkuak. Kematian Mariana murni dibunuh kekasihnya, Zainal (25). Motifnya, Zainal kalap mendengar pengakuan kekasihnya yang berselingkuh dengan pria lain.

 

Zainal menghabisi nyawa kekasihnya itu dengan cara mendorong tubuh korban persis ketika kereta api tujuan Medan-Rantau Prapat melintas di malam naas tersebut sekira pukul 07.00 WIB. Sejauh ini tidak ada keterlibatan pihak lain pasca kematian korban. Dari TKP, polisi mengamankan dompet warna hitam berisi KTP milik korban yang ditemukan tak jauh dari tubuh korban.

 

Polisi berhasil membekuk Zainal, Sabtu ( 17/5) malam sekira pukul 19.00 WIB, dari rumah abang tersangka di Kampung Baru, Kota Medan. Ketika hendak dibekuk, tersangka sedang menonton televisi dan tak ada perlawanan yang diberikan oleh tersangka.

 

Tiga minggu sebelumnya polisi sudah berupaya mencari jejek tersangka. Informasi seputar keberadaan tersangka selalu dikumpulkan. Barulah tiga hari sebelum dibekuk, polisi mendapat informasi pasti tentang keberadaan tersangka.

 

“Dari informasi yang berhasil dikumpulkan, petugas kepolisian mengetahui bahwa tersangka berada di Kampung Baru, Medan. Dia menginap di tempat abangnya,’’ kata Kanit Tipikor Polres Asahan, Iptu Sihotang mendampingi Kasat Reskrim Polres Asahan, Minggu (18/5) kemarin, di Mapolres Asahan.

 

Sihotang lantas memerintahkan dua anggotanya, Brigadir F Pakpahan dan Bripka Dedi Sertana, melakukan pengintaian. Setelah yakin tersangka berada di dalam rumah, penyergapan pun dilakukan. ‘’Tersangka kita buat tak berkutik,’’ kata Sihotang.

 

Dia menambahkan, sebelum menemukan keberadaan pasti tersangka, anggotanya berkeliling memburu tersangka hingga ke pelosok perkebunan di kawasan Riau. Itu dilakukan setelah polisi mendapat informasi dari masyarakat. ‘’Informasi awal yang kita dapat tersangka kabur ke daerah perkebunan di Riau. Dia bersembunyi di tempat saudaranya. Namun setelah dicek, hasilnya nihil. Meski demikian, tim tetap solid dan terus berupaya menemukan jejak pelaku. Hasilnya, Sabtu malam kita berhasil membekuk tersangka,’’ tambah Sihotang.

 

Sementara tersangka mengaku sengaja mendorong tubuh korban ketika kereta api melintas dari arah Rantau Prapat. Saat itu tersangka dan korban terlibat pertengkaran kecil di pinggir lintasan kereta api yang berada di lingkungan III Kelurahan Selawan Mutiara Kisaran.

 

Seperti yang diberikan, Zainal diringkus polisi terkait pembunuhan calon mempelai perempuannya, Mariana warga Jalan Pembangunan II Kisaran. Korban ditemukan tewas di lintasan Kereta api Medan-Rantau Prapat persisnya di Lingkungan III Selawan Mutiara Kisaran.

 

Di sekitar lokasi kejadian petugas menemukan sebuah dompet hitam berisikan KTP atas nama Zainal warga jalan Sisingamangaraja Gang Kurnia Kisaran. Atas temuan dompet itu, akhirnya petugas melakukan penyelidikan dan memburu Zainal.

 

Kasatrekrim Polres Asahan AKP AY Harahap ketika dikonfirmasi membenarkan penangkapan tersebut. Menurutnya, tersangka berhasil ditangkap setelah Kapolres Asahan, AKBP Rudi Sumardyanto SH memerintahkan satuannya untuk membentuk tim.

 

Tim yang dibentuk tersebut khusus menangani kasus-kasus yang belum terselesaikan yang terjadi di Asahan. “Setelah tim kita bentuk akhirnya tersangka berhasil,” ujar perwira garis tiga di pundak ini.

 

Nolak Diajak ke Hotel Karena Sedang Hamil

 

TERTANGKAPNYA Zainal (25) tersangka pembunuhan Mariana (21) warga Jalan Pembangunan II Kisaran menyisakan sepenggal cerita. Awalnya, tersangka mengaku saat itu tidak ada rencana untuk melakukan pembunuhan terhadap calon tunangannya tersebut.

Pembunuhan tersebut dilakukannya secara spontan karena kesal mendengar pengakuan korban. Saat itu korban mengaku bahwa dirinya hamil 3 bulan. Ironisnya, korban mengaku hamil bukan karena perbuatan tersangka melainkan karena lelaki lain.

Inilah kronologis versi tersangka. Malam itu tersangka sengaja membawa korban untuk jalan-jalan ke daerah pinggiran lintasan kereta api. Tersangka mengaku sempat bersetubuh dua kali di sekitar lokasi. Usai bersetubuh, korban malah mengaku kepada tersangka telah hamil tiga bulan. Namun, yang menghamili adalah pria lain.

“Malam itu aku kalap bang! Tanpa sengaja kudorong tubuhnya ke lintasan kereta api,” ujar tersangka.

Kata tersangka lagi, rencananya mereka akan melanjutkan percintaan di salahsatu hotel di Kisaran. Namun ketika diajak, korban menolak dan mengaku sebelumnya telah berhubungan dengan lelaki lain. Tersangka pun emosi dan menarik tubuh korban agar bersedia dibawa pulang untuk menceritakan kepada orang tua korban.

“Ayo pulang. Akan kulaporkan sama orang tua kau tentang kehamilan kau,” ungkap tersangka.

Suasana semakin tegang ketika tersangka korban menarik kerah baju korban. Nah, saat itu tiba-tiba dari arah Rantau Prapat muncul kereta api penumpang Bisnis Sri Bilah. Tanpa pikir panjang, tersangka mendorong tubuh korban ke lintasan kereta api. Tak ayal, korban terlindas kereta api dan tewas mengenaskan dengan kepala putus.

Tersangka sendiri mengaku nyaris ikut tergilas karena korban berusaha menarik tangannya. Namun, tersangka hanya terserempet yang mengakibatkannya terseret sejauh 5 meter dan mengalami luka di bagian pinggang.

Setelah kejadian, tersangka berjalan meninggalkan lokasi dengan cara merangkak karena tak bisa berjalan. Dibantu penarik betor, tersangka akhirnya diantar pulang ke rumah. Kepada tukang betor tersangka mengaku jatuh dari sepedamotor.

Sebelum kabur ke Medan, tersangka mengaku menyempatkan diri ke rumah mantan istrinya bernama Susan di Kampung Durian. Setelah itu tersangka menumpang bus mini KUPJ menuju Medan. Di Medan kaki tersangka diurut seorang dukun yang lokasinya tak jauh dari rumah abang tersangka. (nes)

 

 

Selalu Didatangi Arwah Mariana

 

SELAMA pelarian, Zainal mengaku tidak tenang. Zainal tidak bisa tidur pulas karena takut sewaktu-waktu polisi datang menggerebek. Selain itu Zainal mengaku sering didatangi arwah Mariana.

 

Ketika tersangka tidur, lelaki yang telah menduda ini selalu bermimpi tentang Mariana. Arwah Mariana kata tersangka, datang dengan mengenakan pakaian serba putih. Raut wajah arwah Mariana, terlihat sedih dan menitikkan air mata. Namun arwah Mariana yang menangis sempat memeluk tersangka dan meminta agar tersangka kembali ke Kisaran.

 

Kok tega kalilah abang sama aku. Pulang saja ke Kisaran bang,” ungkap Zainal menceritakan mimpinya.

 

Mimpi tersebut kata Zainal datang menghampirinya saat tidur. Setelah sering mendapat mimpi, tersangka selalu dihantui ketakutan sehingga berniat pulang ke Kisaran, namun keinginannya dicegah oleh kakaknya.

 

“Setelah sering didatangi, aku langsung mau pulang ke Kisaran bang! Tapi selalu dicegah kakak dan menyarankan aku agar jangan pulang karena aku bisa ditangkap polisi. Apalagi kata mereka kakiku bisa ditembak,” ujar tersangka.

 

Mendegar nasihat kakaknya itu, tersangka mengurungkan niatnya pulang ke Kisaran. Di tempat pelariannya itu Zainal bekerja sebagai kuli bangunan. Tersangka sendiri mengaku ditangkap polisi sebelum menerima gaji dari pekerjaannya sebagai buruh bangunan.

“Padahal aku belum menerima gaji bang, rencananya hari ini gajian,” kata Zainal. (nes) 

 

PET: METRO ASAHAN



Thomas Indonesia Meradang, Aku Menangis
Mei 16, 2008, 4:05 pm
Diarsipkan di bawah: STRIGHT NEWS

Tim Thomas Indonesia meradang. Kalimat itu pantas dialamatkan kepada Taufik Hidayat dkk. Tim Merah Putih gagal ke final setelah dipecundangi Korea Selatan 3-0 pada babak semifinal di Istrora Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (16/5).

Setelah takluk di dua partai awal, Taufik gagal membuka peluang Indonesia membalas ketertinggalan. Menantu mantan ketua Umum KONI Pusat itu dibungkam tunggal kedua Korsel Lee Hyun-Ii 21-13 21-14.

Di set pertama, Taufik memang unggul dalam akumulasi smes. Namun banyaknya kesalahan net dan antisipasi cock membuat Taufik kalah 13-21.

Memasuki set kedua, keadaan tidak berbeda jauh. Taufik kembali melakukan kesalahan sendiri. Terhitung delapan kali cock Taufik menyangkut net.

Selain itu penampilan gemilang Lee yang terlihat gigih membuat Taufik kehabisan akal. Taufik bahkan tertinggal jauh 11-7 dari Lee sebelum akhirnya menutup set kedua 14-21.

Kekalahan ini tentu membuat ribuan penonton di Istora Gelora Bung Karno memendam kekecewaan. Perjalanan Tim Thomas Merah Putih harus gagal di babak semifinal. Ambisi menyandingkan Piala Thomas dan Uber terkubur.

Pada dua laga sebelumnya, tunggal pertama Indonesia Sony Dwi Kuncoro harus mengakui ketangguhan Park Sung-hwan 12-21, 21-12, 18-21. Sebenarnya, Indonesia memiliki harapan menyamakan kedudukan melalui ganda utama Markis Kido/Hendra Setiawan.

Pasangan yang menempati peringkat satu dunia itu tidak mampu meredam kualitas Jung Jae-sung/Lee Yong-dae. Markis/Hendra menyerah 19-21, 21-18, 10-21.

Hasil itu sudah cukup mamastikan langkah Korsel ke babak final. Negeri Ginseng itu akan menantang juara bertahan China. Pada babak semifinal, China menghentikan Malaysia 3-2. (ok/int)

 

 



WN Malaysia Ditangkap Bawa 35.263 Butir Ekstasi
Mei 16, 2008, 10:18 am
Diarsipkan di bawah: STRIGHT NEWS

Hendak Dipasok ke Medan dan Aceh

 

Tim Bea dan Cukai Pelabuhan Teluk Nibung, Kamis (15/5) malam sekira pukul 21.00 WIB, membongkar jaringan peredaran narkoba internasional. Dua tersangkanya, seorang warga negara Malaysia dan warga Tanjung Balai diamankan bersama 35.263 butir pil ekstasi.

 

Kedua tersangka adalah Junaidi Bin Julkanan (22) warga negara Malaysia dan Rusiadi (48) warga Kapias, Tanjung Balai. Keduanya ditangkap tanpa perlawanan oleh petugas bea dan cukai.

 

Nazaruddin, Kepala Seksi P2 (Pengawasan dan Pelayanan) Bea dan Cukai Tipe A4 Pelabuhan Teluk Nibung, Kota Tanjung Balai, mengatakan, penangkapan kedua tersangka berawal dari informasi yang diperoleh petugas bea dan cukai yang menginformasikan akan ada ribuan pil ekstasi masuk melalui Pelabuhan Teluk Nibung, Tanjung Balai. Ekstasi itu, kata Nazaruddin, hendak dipasok ke sejumlah daerah seperti Medan dan Aceh.

 

Ribuan pil ekstasi itu sendiri berasal dari pelabuhan Port Klang Malaysia. Disinyalir, penyelundupan pil haram tersebut berkat kerja sama petugas di Malaysia. Namun Nazaruddin tak merinci lebih lanjut siapa oknum yang dimaksud.

 

“Sesuai pengakuan tersangka Junaidi, barang haram itu datang dari Malaysia. Dia (Junaidi) hanya kurir yang membawa pil ekstasi tersebut karena rencananya dia akan menuju Medan dan Aceh,” katanya.

Kronologi pengungkapan kasus kata Nazaruddin berawal informasi dari masyarakat. Mereka menyebutkan adanya sindikat narkoba yang mengimpor ekstasi dari Malaysia dalam jumlah ribuan tablet. Atas informasi tersebut, diterjunkan tim yang diketuai oleh Kasi P2 Teluk Nibung.

 

Benar saja, pada Kamis malam sekira pukul 21.00, petugas menemukan barang bukti ekstasi sebanyak 35.263 butir pil ekstasi dari dalam koper milik tersangka Junaidi.

 

Junaidi awalnya sempat lolos lantaran belum terbukti secara sah membawa barang tersebut. Beruntung saja, petugas secepatnya memeriksa koper bawaan milik tersangka. Di dalam koper berwarna hitam yang disembunyikan dalam sekoci kapal, petugas menemukan 35 kotak berisi pil ekstasi. Pil setan ini dititipkan seorang teman Junaidi di Malaysia melalui seorang ABK Kapal Aerospeed MV Aman III, Rusiadi, warga Kapias.

 

Setelah dijemput dan ditanyai, akhirnya Rusiadi buka mulut bahwa koper itu milik Junaidi. Petugas BC Teluk Nibung langsung mengontak petugas Lantamal untuk menahan Junaidi yang ketika itu sudah sampai di kawasan Tanjung Morawa. Tanpa menemui kesulitan, petugas berhasil mengamankan Junaidi dan selanjutnya diboyong kembali ke Tanjung Balai.

 

Saat ditanyai, tersangka Junaidi tak mengelak mengakui koper tersebut miliknya. Rencananya, ribuan pil setan itu akan dibawanya ke Medan dan Aceh. Tersangka Junaidi mengaku, hanya koper tersebut adalah titipan seorang temannya di Malaysia. Temannya berpesan, koper miliknya telah dititipkan kepada seorang ABK bernama Rusiadi. Junaidi mengaku tak mengenal persis Rusiadi. Dia hanya dititipi nomor handphone milik Rusiadi.

Nanti setelah tiba di Pelabuhan Teluk Nibung, Junaidi tinggal menelepon Rusiadi untuk menyerahkan koper berisi ribuan pil ekstasi tersebut.

 

Sementara Rusiadi mengaku, dibayar RM 1 juta atau sekitar Rp30 juta (kurs Rp3.000) oleh teman Junaidi di Malaysia. Tugas Rusiadi hanya membawa dan menyembunyikan barang itu hingga Pelabuhan Teluk Nibung, lalu menyerahkannya kepada Junaidi. (wik/gan)  

 

PET: METRO ASAHAN



Ayah Dibacok, Anak Tikam Perut Pelaku
Mei 15, 2008, 4:34 pm
Diarsipkan di bawah: STRIGHT NEWS

Darah Mengucur, Usus Terburai

 Akibat pundak bapaknya dibacok, Jonathan Sianipar (18) menusuk perut sebelah kanan Mangadar Simamora (45) hingga ususnya terburai, Kamis malam (15/5) sekira pukul 17.15 WIB, di Lingkungan Sukaramai Pasar, Kecamatan Tanah Jawa, Simalungun. Seketika, Mangadar dilarikan ke Rumah Sakit Harapan Siantar.

 Ayah Jonathan, Parlindungan Sianipar alias Angkup Sianipar yang mengalami dua luka bacok di pundak dirawat di Rumah Sakit Vita Insani, Pematangsiantar. Sementara Jonathan Sianipar digelandang ke Polsek Tanah Jawa.

 Pantauan METRO di RS Harapan Siantar, darah mengucur deras dari perut Mangadar Simamora hingga menggenangi tempat tidur. Ironisnya, isi perut korban terburai. Kondisi ini memaksa keluarga korban mencari tambahan darah untuk mangadar.

Jonathan Simamora ketika diwawancarai METRO di RS Vita Insani mengatakan, awal peristiwa berawal ketika ia habis mencuci mobil angkot CV Sinarta No 348 dari Tangkahan Sungai Tongguran. Jonathan yang berfrofesi sebagai tukang cuci mobil bermaksud membawa mobil cuciannya ke rumah orang tuanya.

Namun beberapa meter sebelum tiba di rumah orang tuanya, tiba-tiba muncul korban Mangadar Simamora dan menghadangkan sepedamotornya di depan bus angkot yang dikendarai Jonathan Sianipar. Sempat terjadi pertengkaran namun tersangka Jonathan tidak melayani.

Korban Angkup Sianipar yang sedang berada di kedai miliknya keluar begitu melihat anaknya terlibat pertengkaran. Angkup Sianipar berusaha menanyakan latar belakang terjadinya pertengkaran. Namun pertanyaan Angkup Sianipar dijawab dengan bacokan beruntun sebanyak dua kali persis di pundak Angkup Sianipar. Sempat juga Angkup Sianipar memberikan perlawanan dengan mengambil senjata tajam dari dalam mobil yang dikemudikan anaknya.

Pada suatu kesempatan pisau tajam bengkok milik Mangadar Simamora terjatuh dan kesempatan itu langsung digunakan tersangka Jonathan Sianipar untuk merebut pisau tersebut.

Setelah dikuasai, Jonathan Sianipar menikamkan perut sebelah kanan Mangadar Simamora hingga usus terburai dan Mangadar ambruk ke tanah.

Kapolsekta Tanah Jawa AKP B Turnip yang mendapat informasi kejadian langsung meluncur ke TKP dan membawa kedua korban yang sudah sekarat ke rumah sakit Vita Insani dan RS Harapan Siantar.

Informasi lain yang dihimpun, perkelahian dipicu dari persaingan usaha. Kedua korban sama-sama membuka usaha rumah makan khas masakan batak. Di mana kedai kedua korban saling berhadap-hadapan yang hanya dipisahkan jalan raya.

Kapolsekta Tanah Jawa AKP B Turnip ketika dikonfirmasi mengatakan, barang bukti pisau yang digunakan untuk menikam korban telah disita serta tersangka Jontahan Sianipar yang menikam Mangadar Simamora telah diamankan di Rutan Polsekta Tanah Jawa. (iwa)                                    

PET: METRO SIANTAR

 

 



Dian Perdiawan, Karyawan yang Tewas dalam Kebakaran Vihara
Mei 13, 2008, 4:54 pm
Diarsipkan di bawah: STRIGHT NEWS, Tak Berkategori

Kesayangan Bhiksu Dhyanavira, Dimimpikan Menikah

Satu dari tujuh korban tewas dalam musibah kebakaran Vihara Avalokitesvara Pematangsiantar, Minggu (11/5) dini hari adalah Dian Perdiawan. Pemuda berusia 23 tahun ini adalah karyawan bagian taman di vihara yang berada di Jalan Sipiso-piso Kelurahan Pematang Simalungun Kecamatan Siantar Selatan Kota Pematangsiantar.

 

 

 

Senin (12/5) sekira pukul 11.00 WIB, METRO tiba di rumah duka keluarga Dian di Nagori Margomulyo, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun. Terlihat tenda masih berdiri di depan rumah sederhana itu. Sementara jenazah Dian, sudah dimakamkan Minggu (11/5) sekira pukul 16.00 WIB di Pemakaman Muslim, sekira dua kilometer dari rumah tersebut.

 

Orangtua Dian, Sukemi Kanta dan Misri terlihat berduka. Sang ibu terus menangisi kepergian sulung dari lima bersaudara itu. Selain kedua orangtuanya, kekasih Dian yakni Titin (19), sepupunya Yeni, dan adik iparnya, Iwan Aspari ikut menyambut METRO.

Kepada METRO, Yeni yang terlihat berduka menuturkan, Minggu malam (4/5) ia bermimpi Dian menikah dengan Titin.

 

Kata Yeni, Titin yang sudah menjalin hubungan dengan Dian selama setahun juga bekerja di Vihara Avalokitesvara. Jika Dian bertugas di bagian taman, maka Titin merupakan petugas kebersihan. Hubungan keduanya pun sudah direstui keluarga kedua belah pihak.

Masih kata Yeni, dalam mimpinya itu, Dian dan Titin bersanding mesra di pelaminan.

Saat itu, rumah sangat ramai dihadiri sanak saudara.

 

Sementara Iwan Aspari mengatakan, kenangan terakhirnya dengan Dian saat almarhum memberikan buah apel, jeruk, dan mi instan kepada keluarganya. Buah-buahan itu diperoleh Dian dari vihara.

 

“Sabtu (10/5) sore saya ke vihara menemui Dian. Saat itu Dian memberikan buah-buahan. Dia juga bilang belum bisa pulang seperti biasanya. Sebab banyak pekerjaan menyambut Hari Waisak. Padahal biasanya Dian pulang setiap Sabtu sore,” terang Aspari.

 

Aspari mengaku sama sekali tidak ada firasat itulah pertemuan terakhirnya dengan Dian. Sebab Minggu (11/5) dini hari, Dian menjadi salahsatu korban terbakarnya Vihara Avalokitesvara.

 

Masih kata Aspari, mereka mengetahui musibah kebakaran dari pimpinan Vihara Avalokitesvara yang langsung menghubungi handphone (HP). Mendengar itu, keluarga langsung berangkat ke Pematangsiantar. Saat itu keluarga yakin Dian sudah meninggal dunia.

Sebab saat dihubungi, HP Dian tidak aktif. 

 

Masih kata Aspari, Dian mulai bekerja di Vihara Avalokitesvara tahun 2005, dengan gaji pokok Rp 450.000 per bulan. Untuk makan siang dan malam ditanggung pihak Vihara Avalokitesvara. Dan mereka juga disediakan tempat tinggal di dalam gedung tersebut. “Kepada keluarga, Dian mengatakan dia karyawan kesayangan Bhiksu Dhayanavira,” kata Aspari.

 

Aspari menambahkan, Dian adalah anak yang patuh, tidak pernah melawan orangtuanya. Setiap Sabtu dia pulang ke rumah dan kembali ke Siantar setiap Minggu sore. (jhon)

 

PET: METRO SIANTAR

      

 



Avalokitesvara Siantar Terbakar, 7 Tewas
Mei 11, 2008, 4:47 pm
Diarsipkan di bawah: STRIGHT NEWS

Vihara Avalokitesvara di Jalan Sipiso-piso Kelurahan Pematang Simalungun, Pematangsiantar terbakar, Minggu (11/5) sekira pukul 00.30 WIB. Tujuh orang tewas dan 9 lainnya luka-luka, termasuk pimpinan vihara, Bhiksu Dhyanavira. Kerugian ditaksir Rp15 miliar.

 

Pantauan di lokasi kejadian sekira pukul 00.50 WIB, kobaran api terlihat di lantai II vihara, yang merupakan ruang ibadah. Dari jarak sekira lima meter, terdengar beberapa kali dentuman keras yang membuat bangunan runtuh dan puing-pung beterbangan. 

 

Api pun cepat menyebar ke seluruh ruangan vihara. Ketika api mulai benjalar ke ruang tempat tinggal pegawai dan perpustakaan di lantai II, terlihat beberapa penghuni vihara berusaha menyelamatkan diri dengan melompat ke sebelah kiri gedung vihara, yang merupakan pemukiman warga.

 

Akibat melompat, mereka mengalami luka dan patah kaki. Segera saja warga yang telah memenuhi pelataran vihara melarikan mereka ke rumah sakit. Sementara api semakin menjalar ke seluruh ruangan di lantai II dan lantai II, hingga ke Pagoda Vihara yang berada di sebelah kiri gedung yang terbakar.

 

Dugaan sementara, kebakaran disebabkan hubungan listrik arus pendek (korsleting) di ruang ibadah. Kebetulan asbes di ruangan tersebut terbuat dari kayu yang dipelitur, sehingga api langsung menyambar asbes, lalu menjalar ke benda lain di dalam ruangan. Apalagi, dalam ruangan terdapat perlengkapan sembahyang seperti dupa, kertas sembahyang, dan sebagainya. Seketika nyala api semakin besar dan segera melalap hampir seluruh ruangan di lantai II.

 

Tak lama, mobil dan petugas pemadam kebakaran tiba di lokasi. Enam unit mobil pemadam kebakaran, yakni 4 dari Pemko Siantar, 1 unit milik Pemkab Simalungun, dan 1 unit milik NV STTC diturunkan. Petugas segera berusaha memadamkan api. Namun, karena dini hari itu angin bertiup cukup kencang, sehingga api sulit dipadamkan. Ketika disiram, api semakin menyala dan merembes hingga atap gedung. Sementara, perpustakaan di lantai II dipastikan hangus.

 

Petugas kesulitan menemukan titik asal api. Sebab vihara terbesar di Kota Siantar itu memiliki banyak ruangan. Dua unit mobil pemadam kebakaran yang tiba lebih dulu langsung menyemprot bagian belakang lantai II, namun api tak padam. Sehingga mobil pemadam yang lain langsung masuk ke pelataran vihara melalui Jalan Sipiso-piso. Api baru benar-benar padam sekira pukul 07.00 WIB.

 

Pagi itu juga, petugas pemadam bersama personil polisi dan sukarelawan masuk ke puing-puing bangunan untuk melakukan evakuasi. Ditemukan tujuh orang tewas terpanggang. Mereka yang ditemukan tewas di lantai II yakni Bhiksu Yucen (70) dan Sujad Widodo (40). Lalu dua karyawan yakni Dian (20) dan Rizal yang diperkirakan berusia 20 tahun. Selain itu, dua bersaudara yakni Aini dan Aicin, warga Jalan Srikandi Kota Binjai juga ditemukan tewas. Dan korban tewas yang terakhir ditemukan Chiu Hong, juga warga Kota Binjai tepatnya di Pajak Tafif.

 

Pengurus Vihara Avalokitesvara, Chandra, kepada METRO mengatakan pihaknya sudah mengevakuasi seluruh korban. Sesudah diotopsi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr Djasamen Saragih Pematangsiantar, seluruh jenazah dibawa ke rumah sosial atau Yayasan Bhakti Kesejahteraan Sosial (YBKS) di Jalan Cokroaminoto Pematangsiantar.

 

”Kita semua turut berduka atas kejadian ini. Mengenai para korban, sepenuhnya menjadi tanggung jawab Vihara Avalokitesvara,” tukas Chandra.

 

Chandra menambahkan, saat kebakaran, penghuni vihara yang berjumlah 30 orang sedang beristirahat. Sebab keesokan harinya, Minggu (11/5) sekira pukul 07.00 WIB, dilaksanakan kebaktian menjelang Hari Tri Suci Waisak. Chandra juga mengatakan, vihara tersebut tidak memiliki pintu darurat untuk menyelamatkan diri jika terjadi musibah seperti kebakaran.

 

Penjaga malam Vihara Avalokitesvara, Hanafi, kepada METRO menerangkan, dini hari itu ia berjaga di depan vihara yang menghadap ke Jalan Pusuk Buhit. Tiba-tiba ia mendengar teriakan minta tolong. Ia pun segera berlari menuju ruang induk vihara, yakni Klenteng Phon In Tha. Dari situ ia melihat api membakar lantai II. Ia juga melihat para bhiksu dan bhiksuni dan pekerja lainnya berhamburan keluar dari vihara.

 

Suara Ketukan

 

Sekira pukul 05.00 WIB, saat kobaran api sudah mulai berhasil dijinakkan, ribuan warga yang memadati lokasi mendengarkan suara ketukan dari salahsatu ruangan di lantai III.

Ternyata ketukan ke lantai keramik itu dilakukan Ahong (65), warga Kota Binjai yang terperangkap di salahsatu kamar di ruangan tempat tinggal karyawan.

 

Petugas pemadam dan polisi yang juga mendengar suara tersebut, langsung menuju ruangan di lantai III. Namun karena asap masik menyelimuti, petugas kesulitan masuk. Setelah bara api yang tersisa disiram, petugas pun bisa masuk ke lantai III. Di lantai tersebut petugas menemukan Ahong terduduk dan sesak nafas akibat kepulan asap. Segera petuags menyelamatkan Ahong. Dari Ahong, diketahui ada beberapa orang yang tewas di lantai III. Ahong sendiri segera dilarikan ke rumah sakit.

 

Berdasarkan dari Ahong, petugas berusaha melakukan evakuasi terhadap korban tewas. Namun, lagi-lagi karena kepulan asap dan hawa panas, evakuasi ditunda.

 

Evakuasi baru bisa dilakukan sekira pukul 07.30 WIB, yang langsung dilakukan Tim Forensik Polresta Siantar dipimpin Kasatreskrim AKP Bustami didampingi Kapolsek Siantar Selatan AKP Robert Gultom. Mereka menelusuri seluruh ruangan di lantai II dan III, dipandu pengurus vihara.

 

Korban tewas pertama yang ditemukan yakni Bhiksu Yuncen (60). Jasadnya ditemukan tergeletak di dekat meja makan di lantai III. Ruangan tersebut merupakan ruang makan para bhiksu. Korban kedua yang ditemukan di lorong kamar tempat tinggal pegawai yakni Widodo (50) guru agama Buddha. Seluruh tubuhnya menghitam. Selanjutnya petugas menemukan jasad Dian (23) dan Rijal (18) warga Sei Rapuh Kabupaten Simalungun. Keduanya merupakan karyawan di vihara, dan ditemukan di kamar paling sudut di lantai III. Sedangkan tiga wanita yang merupakan warga Binjai yakni Ong Aini alias Sumarniah (42), Ong Aicin (44), dan Chuchu Hong (65), jasad mereka ditemukan berdempeten di kamar nomor dua di lantai III.

 

Sedangkan korban luka-luka, hingga kemarin belum diketahui identitasnya secara jelas. Informasi dihimpun METRO, korban luka dilarikan ke salahsatu rumah sakit di Medan.

 

Sungai Bah Bolon Tak Bisa Dimanfaatkan

Petugas pemadam kebakaran tidak dapat memanfaatkan air Sungai Bah Bolon yang berada tepat di samping vihara untuk memadamkan kobaran api. Pasalnya, selain kedalaman sungai yang tidak memungkinkan, sungai tersebut juga dipenuhi sampah dan lumpur.

 

Hal ini dikatakan Kapolsek Siantar Selatan AKP Robert Gultom SH yang ditemui METRO di lokasi kebakaran, Minggu (11/5), sekira pukul 03.00 WIB. Robert mengatakan, berdasarkan pernyataan petugas pemadam kebakaran kepada kepolisian, mereka tidak bisa mengambil air di sembarangan tempat untuk memadamkan api. Selain kedalaman air sungai tidak memenuhi standar, dikhawatirkan lumpur ikut tersedot. Selain itu, banyaknya sampah di sungai juga menjadi salahsatu faktor yang membuat petugas pemadam kebakaran enggan mengambil air Sungai Bah Bolon.

 

”Mereka bilang kedalaman air sungai tidak pas untuk dilakukan penyedotan. Selain itu, di Sungai Bah Bolon banyak sampah, dan dikhawatirkan lumpur juga banyak. Jika dilakukan penyedotan ke dalam tangki mobil pemadam kebakaran, bisa-bisa lumpur dan sampah ikut tersedot,” terang Robert.

 

Pantauan METRO, Robert sibuk memberikan arahan kepada bawahannya yang berada di lokasi vihara yang terbakar. Robert juga memerintahkan anak buahnya mengatur warga  agar tidak menghalangi mobil pemadam kebakaran masuk ke lokasi.

 

Saat ditanya jumlah kerugian materil atas kebakaran, Robert mengatakan diperkirakan kerugian akibat mencapai Rp15 miliar. Namun Robert belum mengetahui pasti sumber api.

 

Ibadah Rutin Sambut Waisak Tak Tuntas

 

Pengurus Vihara Avalokitesvara, Chandra mengatakan, sejak Jumat (9/5) lalu, di vihara terbesar di Kota Pematangsiantar itu digelar ibadah rutin dalam rangka menyambut Hari Trisuci Waisak, Selasa (10/5). Direncanakan ibadah rutin tersebut berakhir hari ini, Senin (12/5). Mereka yang ikut beribadah selain umat Buddha Kota Siantar, juga dari Perdagangan sekitarnya, termasuk Kota Medan, Binjai, dan lainnya. Akibat musibah kebakaran, ibadah rutin terpaksa tak dituntaskan.

 

Bahkan, lanjut Chandra, di malam sebelum kejadian, Sabtu (10/5), mereka menggelar ibadah yang diikuti sekitar 300 jemaat di lantai II. Ibadah berlangsung pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.

 

Usai ibadah, jemaat pulang ke rumah masing-masing. Namun ada beberapa yang memilih tinggal di vihara bersama bhiksu, termasuk tiga korban tewas yang merupakan warga Binjai. Sebab, selain untuk bhiksu dan karyawan, di vihara itu juga tersedia kamar spesial bagi pengunjung.

 

Dikatakan Chandra, akibat musibah kebakaran itu, Vihara Avalokitesvara berkabung dan untuk sementara menunda pelaksanaan ibadah. Sedangkan soal kerugian, Chandra mengaku untuk sementara belum dapat dipastikan. Namun seluruh isi ruangan lantai II termasuk perpustakaan, ludes terbakar. Hanya sebagian patung yang masih utuh.

 

Ketika ditanya keberadaan pimpinan Vihara Avalokitesvara, Bhiksu Dyhanavira atau Thing Siong She, yang berhasil menyelamatkan diri dari perangkap api, Chandra mengatakan bhiksu tersebut aman. Namun, ia meminta METRO tidak mewawancarai bhiksu tersebut karena masih trauma dan perlu menenangkan diri.  (mag-01/dro/niksyaf)

 

 dikutip dari Harian METRO SIANTAR

 



‘Telepon Merah’ Makan Korban di Kisaran, Siantar, dan Tapteng
Mei 9, 2008, 11:46 am
Diarsipkan di bawah: STRIGHT NEWS

Kamis (8/5) malam sekira pukul 22.30 WIB,  warga Kota Kisaran tiba-tiba geger, setelah seorang pelajar SMK Pemda Kisaran mengaku dihubungi ‘telepon merah’. Akibatnya fatal, pelajar tersebut tiba–tiba mengalami kejang-kejang dan sakit perut.

 

Peristiwa tersebut dialami Jamot Manurung (17), warga Jalan Williem Iskandar Kisaran, ketika dia dan teman-temannya mendengarkan musik MP3 dari handphonenya Nokia type 3660.

Nah, ketika asyik mendengarkan musik MP3, handphone Jamot berdering. Jamot pun menerima panggilan masuk itu. Namun saat Jamot ingin melihat nomor si pemanggil, ada keanehan yakni, nomor si pemanggil tidak lengkap dan layar berubah tampilan menjadi merah serta serta layar handphone menampilkan tanda silang yang berkelap–kelip.

 

Melihat itu, pelajar kelas I Jurusan Otomotif merasa terkejut dan langsung mematikannya. Jamot melakukan tindakan tersebut karena sebelumnya telah mendengar adanya isu tentang nomor berbahaya itu sembari memberi tahukannya pada teman–temannya. Bahkan untuk menghindari hal–hal yang tak dinginkan, Jamot bersama teman-temannya langsung menukar nomor hp-nya yang sebelumnya menggunakan nomor kartu simpati dengan membeli kartu as di kios hp tak jauh dari kediamannya.

 

Begitupun, upaya yang dilakukan Jamot ternyata sia-sia. Beberapa saat ketika pergantian kartu, pelajar tersebut kembali dihubungi nomor berbahaya dengan seri 3458. Peristiwa yang tak disangka itu membuat Jamot bersama teman–temannya ketakutan. Bahkan Jamot membuang handphone nya dan lari keluar rumah. Ironisnya, setelah keluar dari rumah, Jamot mengalami kejang–kejang dan sakit perut. Peristiwa menimpa pelajar itu sontak menghebohkan tetangga dan warga setempat. Dalam beberapa saat, kabar tentang kejadian menimpa pelajar itu langsung menyebar luas dan menggegerkan kota Kisaran. Bahkan membuat warga berbondong–bondong mendatangi kediaman Jamot.

 

Awalnya Jamot dilarikan warga ke seorang thabib yang tak jauh dari kediamannya. Namun si thabib mengatakan bahwa Jamot terserang masuk angin karena belum makan. Merasa tak puas, warga membawa Jamot ke Rumah Sakit Umum H Abdul Manan Kisaran. Hasil pemeriksaan dokter rumah sakit, Jamot dikatakan mengalami penyakit asam lambung.

 

Namun apa yang dikatakan thabib dan pihak rumah sakit dibantah Jamot dan teman-temanya ketika ditemui wartawan koran ini di Rumah Sakit Umum H Abdul Manan Simatupang. Kata Jamot, dia benar–benar menerima panggilan dari “nomor  setan” itu.

 

”Peristiwa itu benar–benar terjadi. Saat itu saya sedang duduk bersama sejumlah teman–teman seusai makan malam,” katanya.

 

Pernyataan senada juga dilontarkan temannya, Elidison Siahaan (17). Elidison mengaku kalau dirinya juga sempat melihat nomor yang masuk handphone Jamot.

 

“Kejadian itu memang benar, karena saya juga sempat melihat nomor tersebut,” cetusnya.

Hingga kini peristiwa menimpa pelajar itu, masih dalam penanganan pihak Polres Asahan yang turun langsung ke lokasi kejadian. Sedang warga hingga berita ini diturunkan masih terus berkumpul di rumah korban danRumah Sakit Umum H Abdul Manan Simatupang Kisaran. Kejadian itu juga sempat membuat macat alur lalu lintas Jalan Williem Iskandar.

 

Sementara itu, Mahasiswi Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Barus Kabupaten Tapteng, Devi br Saruksuk (20), pingsan di rumahnya di Kecamatan Sirandorung, setelah menerima telepon dari orang tak dikenal (OTK), Kamis (8/5) sekira pukul 13.30 WIB. Layar handphone (HP) gadis itu, seketika berubah menjadi merah.

 

Informasi dihimpun METRO dari tante korban, Asni br Simanullang, warga Kelurahan Pasar Batu Gerigis, Kecamatan Barus, saat kejadian, Devi yang tinggal bersama Asni di rumahnya, sedang berkomunikasi melalui HP dengan seorang temannya, Jhon Efendi (21), warga Kecamatan Sorkam Barat, yang juga mahasiswa STKIP Barus.

 

Beberapa saat kemudian, saat asyik mengobrol, tiba-tiba masuk telepon dari orang tidak dikenal ke HP Devi, dan tanpa nomor. Seketika itu juga, layar HP yang digenggam mahasiswi itu berubah menjadi merah, sementara suara dari seberang sangat mengerikan.

Devi pun meminta temannya, Jhon Efendi mematikan HP-nya, agar dia menerima telepon yang masuk itu.

 

“Nanti kita sambung lagi ya,” kata Asni menirukan ucapan Devi saat itu.

Jhon pun menuruti permintaan korban. Lalu Devi menerima telepon dari OTK tersebut. Dalam hitungan detik, tubuh Devi lemas dan menggigil. Lalu kepala dan lehernya terasa pegal dan sakit. Kemudian dia jatuh pingsan ke lantai. Sedangkan HP-nya yang ikut terjatuh ke lantai, tetap hidup dengan layar bewarnah merah. Keluarga yang melihat kejadian itu merasa ketakutan.

 

“Kami semua yang ada di rumah ketakutan saat melihat kejadian ini serta memanggil beberapa tetangga. Kami langsung melarikan Devi ke Puskesmas Barus, sedangkan HP-nya yang jatuh ke lantai tetap hidup dengan layar merah dan tidak bisa di-nonaktifkan. Kemudian ada keluarga mengambil inisiatif mencabut baterai dan kartunya. Barulah HP-nya mati,” bebernya.

 

Disadarkan Paranormal

Lebih lanjut Asni mengatakan, setibanya di Puskesmas Barus, korban tidak juga sadarkan diri, meskipun telah ditangani perawat. Sekira satu jam kemudian, seorang paranormal dari Barus, Musbir Sinaga datang ke Puskesmas untuk melihat kondisi Devi. Pria yang juga Kepala Desa Bungo Tanjung, Kecamatan Barus ini langsung memberikan pertolongan. Seketika itu juga korban sadar.

 

Sementara Jhon Efendi, warga Sorkam Barat, teman korban, kepada wartawan di Puskesmas Barus menjelaskan, siang itu, dia menerima telepon dari korban.

 

“Siang tadi kami berkomunikasi melalui ponsel, namun tiba-tiba Devi meminta saya  mematikan HP karena ada telepon lain yang masuk. Saya pun menuruti permintaan Devi. Setelah itu saya tidak tahu lagi apa yang terjadi. Tapi tak lama kemudian, saya menerima telepon yang mengatakan Devi pingsan setelah menerima telepon dari orang yang tak kenal itu. Mudah-mudahan dia cepat sembuh,” ujar Jhon sedih.

 

Kapolsek Barus AKP Frido Gultom saat dikonfirmasi membenarkan peristiwa tersebut. “Devi br Saruksuk jatuh pingsan setelah menerima telepon dari orang yang tidak dikenal. Kita masih melakukan penyelidikan atas kasus ini,” ujarnya.

 

Pantauan METRO di Puskesmas Barus hingga pukul 20.00 WIB, Devi masih dirawat. Namun ia belum dapat diwawancarai. Menurut keluarga yang menemaninya, korban masih trauma.

 

Warga Siantar Heboh

Sementara itu warga Kota Pematangsiantar heboh dengan adanya informasi telepon layar merah (ring in red) yang disebut-sebut bisa menyebabkan kematian. Kehebohan itu terjadi di sekolah-sekolah, bahkan di Kantor Dinas Pendidikan dan Pengajaran (Dikjar), Kamis (8/5).

 

Seperti yang terjadi di salahsatu sekolah. Usai Ujian Nasional (UN), banyak siswa membicarakan layar merah. Bahkan sebagian siswi mengaku merinding mendengar cerita itu. Dan tak sedikit yang ketakutan untuk mengangkat HP-nya, serta memilih me-non-aktifkan HP, khususnya di malam hari.

 

“Daripada kita mati sia-sia, lebih baik HP dimatikanlah. Buat apa punya HP kalau membuat kita celaka,” sebut salahseorang siswa, Aroni.

 

Di Pasar Dwikora Parluasan, kehebohan yang sama juga terjadi di kalangan pedagang. Namun mereka mengaku tidak mengetahui pasti siapa korban telepon layar merah tersebut. Kata mereka, yang penting saat ini memilih lebih berhati-hati.

 

“Untuk mengantisipasi terjadinya hal yang tidak diinginkan, saya beritahukan saja hal itu kepada keluarga terdekat. Benar tidaknya isu itu, urusan belakang. Yang pasti kita harus waspada,” ketus Raini, salahseorang pedagang. 

 

Sedangkan di Dinas Dikjar Pematangsiantar, para pegawai juga membicarakan nomor telepon 0866 atau 0666 dan layar HP yang menjadi merah atau biru.

 

“Kalau ada yang kayak gitu, jangan diangkat. Tiga kali kita mengucapkan halo, katanya di situlah kesempatan pemilik nomor itu mencabut nyawa kita,” ujar salahseorang pria. Pria berseragam Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu mengaku mengetahui informasi itu itu dari keluarganya di Jakarta.

 

Wakapolresta Siantar Kompol Drs Safwan Khayat MHum mengatakan, informasi seperti itu tidak usah ditanggapi. Soal adanya short message service (SMS) berantai yang mengingatkan agar berhati-hati, katanya, itu adalah perbuatan orang iseng. Sebab sebenarnaya hanya untuk menghabiskan pulsa.

 

“Pekerjaan itu hanyalah perbuatan orang tidak bertanggung jawab, yang sengaja membuat masyarakat resah,” sebut Safwan.

 

Masyarakat diimbau tidak perlu resah dengan SMS yang mengabarkan panggilan dari nomor 0866 dan 0666 bisa menyebabkan penerimanya mati. SMS itu bisa dianggap teror. Panggilan dari nomor telepon yang tak lazim seperti itu juga bisa dipilih melalui layanan internet.

 

“Yang jelas teknologi seluler adalah teknologi logika. Jadi, siapa yang menelepon atau mengirim SMS pasti dapat dilacak darimana asalnya,” ujar Heru Sutadi, salahsatu anggota

Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) saat dihubungi, Kamis (8/5). Ia menjelaskan setidaknya dapat diketahui dari operator seluler apa SMS dikirim atau panggilan tersebut dilakukan. Apakah itu dari dalam negeri atau luar negeri. 

 

Nomor empat angka yang tidak lazim seperti nomor telepon umumnya, menurut Heru, dapat dilakukan melalui layanan internet. Ia yakin trik seperti ini bukan hal baru dan sudah lama dipakai untuk pengiriman SMS. Misalnya untuk memilih nama pengirim, nomor pengirim, atau menebalkan huruf. Memilih warna sampai menambahkan suara bahkan saat ini sudah ada operator yang menyediakan layanan.

 

“Dulu waktu saya di Jerman kirim sms pakai ’sms.de’ bahkan huruf di layar bisa jalan,” ujar Heru. Layanan semacam ini sempat marak di internet saat SMS mulai diperkenalkan di jaringan seluler. Beberapa perusahaan juga memanfaatkannya untuk SMS broadcast hingga untuk mengirim spam.

 

Menurutnya, penyebaran telepon dan SMS yang meresahkan itu hanya tindakan iseng. Pihaknya akan memantau perkembangan tersebut dan akan mengambil tindakan jika sampai merugikan masyarakat dengan menutup akses dari nomor tersebut. (mas/des/kdc/int/gan/hen/mar)

 

Dikutip dari harian METRO Asahan.