PETANG ketika kujambangi dia pulang kuliah, aku sudah menyodorkan sekuntum senyum. Jantungku seliwer sangat kencang. Setelah saling pandang sejenak, aku dan dia melangkah entah kemana. Nongkrong di cafe, atau lesehan di joglo. Akh… perasaan seperti itu tak pernah lagi kurasakan, sejak tiga tahun lalu aku pacaran dengan dia.
Lelaki itu kata dia semua buaya, tak jauh beda dengan prinsip ekonomi. Modal sedikit tapi untungnya mau banyak. Juntrungnya? Puas dengan seorang gadis maka blas! Usailah semua.Jelasnya, percintaanku dengan dia bukan yang disebut cinta pertama. Walau aku telah mengenalnya frontal tapi aku tidak pernah mengungkapkannya. Karena aku tau dia tak punya perasaan apa-apa padaku. Siapa yang mau sama aku— lelaki kuli tinta yang tak istimewa, jungkis dan berambut gondrong.
Hingga suatu ketika berhembus juga berita itu ke telinga dia. Entahlah siapa yang membocorkannya. Dan sejak saat itu aku gelisah. Walau satu sisi perasaanku lega, tapi sejatinya kegelisahanku adalah: takut malu! Sial! Benar saja. Dia mendatangi aku dengan mimik angkuh, menyemprot aku dengan kata-kata pedas. “Eh! Kalau senang sama cewek jangan jadi pengecut. Berani cuma di belakang. Tapi mulut ngerocos kesana kemari. Eh! Aku bilang sama kau! Jangan sok patenlah,” kata dia tajam, sukses mengiris hatiku. Sejak kejadian itu, aku sebagai ayam yang keok usai disabung. Tapi harus kuakui, aku jadi sering memperhatikan dia.
Bagiku dia wanita tercantik di bumi tempat tinggalku. Teman-temanku juga banyak yang setuju dengan kecantikan dia. Matanya bulat berbinar-binar, alisnya panjang beriring, pipinya merah rona merona, dan akh… bibirnya berwarna merah jambu. Tapi entahlah kenapa, sejak kata-kata pedas dia padaku, dia menjelma sebagai wanita kalem, sopan, dan… wajahnya semakin manis saja. Terlebih jika kebetulan aku dan dia berada dalam satu pertemuan. Tingkah dia semakin saja aneh.
Entahlah dia mulai tergugah atau merasa bersalah. Jelasnya kubiarkan hatiku mengekor di hati dia, dan pada akhirnya dia terjebak, masuk perangkap. Singkat cerita aku dan dia sudah saling sapa. Ngobrolin apa saja, mulai cerpennya Seno Gumira Aji Dharma, novelnya Ahmad Tohari, sampai ngebahas sepakbola. Ternyata aku dan dia punya kesamaan hobi.
Jujur saja! Aku heran kenapa aku bisa sedekat ini dengan dia. Padahal kalau kuingat pacar-pacar dia yang dulu, jauh dan sangat jauh lebih tampan dari aku. Jika aku dapat poin empat, maka mantan pacar-pacar dia itu dapat poin delapan. Tapi sekali lagi, Jujur! Aku heran kenapa aku bisa berpacaran dengan dia. Dan ketika itu kujadikan pertanyaan? Dia cuma bilang: ‘Kau lelaki jujur’. Aku besar kepala.
Akh…sekarang aku tidak lagi bersama dia. Walau tak ada kata-kata putus, kami sudah jalan sendiri-sendiri. Tak ada komunikasi. Tapi kudengar-dengar dia sudah punya pacar baru. Kata yang kudengar-dengar itu, pacar baru dia kerja di perusahaan handphone.Aku harus jujur. Ketika berita itu menjambangiku untuk yang pertama kali, aku sebagai lelaki gila. Kupecahkan malam, kusepak bintang, kulempar bulan. Aku menjadi lelaki temprament. Mulai bermurung dan sensitif terhadap kebisingan.
Tak terasa menit mengejar hari mendatangi bulan dan menyapa tahun. Rupanya waktu terlalu cepat berputar. Dan hari ini, tepat tiga tahun setelah aku tak pernah lagi bertemu dengan dia, aku kembali ke kampung halaman, berdiri lesu di gundukan tanah di depan rumah dia. Tubuhku telah menyongsong di depan rumah dia. Tak kulepas mataku melototi teras rumah yang dipijari lampu neon warna merah dengan seperangkat meja-kursi– di atasnya sebuah vas dengan sejemput mawar putih. Dulu di teras itu aku duduk, menunggu dia berkemas merias, sebelum kami pergi kencan.
Jika mengenangnya aku cuma bisa senyam-senyum dalam hati. Bila masa teringat dia marah? Aura dia sebagai es menghadapi aku. Biar begitu, aku bukannya berusaha mencairkan suasana, malah aku lebih dingin lagi sebagai salju. Memang aku tau akibatnya pasti buruk, dia merajuk, wajahnya layu, hingga kemudian kakinya menghentak bumi lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan aku dengan wajah tajam. Padahal masalahnya sepele: telat ngajak dia kencan.
Perangai dia itu jualah yang yang mempengaruhi aku untuk mulai berani selingkuh. Hingga akhirnya tak ada lagi kusisakan buat kencan dengan dia, sejak aku harus bertugas di luar kota dan pacaran dengan seorang mahasiswi yang jauh lebih dewasa dari dia.
Sekarang kupandangi sekeliling rumah dia. Tak ada yang asing. Semua masih seperti dulu, hanya saja tak kutemukan lagi jejeran bunga mawar bervas putih, berjejer di tepian tembok teras samping rumah dia. Akh… terbayang lagi momen-momen indah bersama dia, wajah dia yang sejuk itu saja sudah membuat nafasku naik-turun. Apalagi saat mengenang awal pacaran, rasanya aku sangat bangga menjadi jodohnya.
“Tak usah dikenang lagi, kan sudah lama berlalu,” kata dia ketika aku dipersilahkan masuk dan duduk di teras rumah. “Iya, aku sudah tak ingat lagi kok,” kata dia pula lagi, bermimik misteri.
Sial! Tak berapa lama aku ketika hendak berbagi nostalgia, sekelebat sepedamotor parkir di depan teras. Aku sempat menutupi wajah dengan tangan kiri karena sorot lampu sepedamotor itu menyiprak wajahku, kemudian seorang lelaki bergaya rapi turun lalu mendatangi kami.
“Maaf aku telat, banku bocor dan terpaksa kutempel di simpang sana,” kata lelaki itu dengan koreografi percaya diri, tentu bukan ditujukan kepada aku. “Ayolah kita pergi biar nanti pulangnya tak kemalaman,” katanya lagi, lagi-lagi dengan koreografi percaya diri.
Kulihat dia belum beranjak, “maaf aku harus pulang,” kubilang singkat dengan wajah serius. Dia dan lelaki itu memandangiku, tapi dia tidak menjawab malah masuk ke dalam rumah, lima menit kemudian dia keluar dengan riasan apa adanya, tak seperti riasan ketika aku mengajaknya kencan. “Yuk biar jangan kemalaman nanti,” kata dia ke lelaki itu dengan sesekali menyibak rambutnya yang hendak diikat.
Aku hanya termangu memandang kepergian dia bersama lelaki itu. Aku pun melangkah menyeret malam. Kepergian dia berubah geram di hatiku. Tak kurasa lagi getaran-getaran indah ketika bersama dia. Kujambret sebiji kerikil kulempar ke arah dua ekor kucing yang sibuk berkelahi dengan suara gaduh. Dasar kucing! Bukannya kabur malah bertambah gaduh. Geram! Kudatangi, kusepak seekor, baru kedua ekor kucing itu kabur.
Hingga kemudian ketika aku hendak beranjak dari rumah dia, telingaku menangkap derap langkah tergesa-gesa. Ternyata dia. Kuterka dia hendak menjemput sesuatu yang tertinggal di rumah. Tapi tidak, dengan wajah angkuh dia mencengkeram lenganku, menarik aku ke samping rumahnya. Ditinjunya dadaku berulang-ulang sekuat tenaga. Diremasnya rambutku dengan jambakan kencang.
Ditendangnya pagar bambu yang ada di sampingku sampai roboh, lalu dia menangis memecah malam. “Kalau kau masih membiarkan aku dijemput lelaki itu, aku bersumpah tak akan pernah mencintaimu lagi! Kalau kau masih membiarkan dia mengapeliku, aku bersumpah akan mencincangmu! Akan kulenyapkan kau dari bumi ini. Tau…!”
Kepala dia menempel di dadaku, dan ketika kuangkat kepala dia, aku menemukan sepasang pipi merah rona merona, mata bulat lembab menganak sungai, alis panjang beriring naik-turun. Akh… perasaan yang membuat jantungnya seliwer sangat kencang. Persis seperti dulu, saat aku mengenal dia tiga tahun lalu, sore-sore ketika kujambangi dia pulang kuliah. ***
Tomuan, 27 Juli’06
Diarsipkan di bawah: SECANGKIR IMAJINASI
Jika ada patah hati yang lebih sakit, aku ingin menemuinya. Menanyakan; seberapa hancur hatinya terhempas. Seberapa ingin ia hendak mati. Seberapa kokoh kakinya menjenjak bumi, dan seberapa mampu ia bisa hidup.
Jika ada patah hati yang lebih sakit, aku ingin bertanya lagi; Apakah ada pelipur lara?
Apakah ada thabib yang bisa menghilangkan rasa sesak di hatinya yang remuk?
Bagaimana ia bisa bertahan dari risau yang berkecamuk seperti air terjun?
Bagaimana ia bisa tidur pulas, nyenyak bermimpi?
Jika ada patah hati yang lebih sakit, aku ingin menantangnya. Mencampakkan jiwaku yang ringkih tergerus di wajahnya yang curam. Melewati badai dengan hati hancur, lalu berteriak:
Aku Patah Hati…
Kujewantahkan! Kau mau lihat?
Alvin Tempatkerja, 5 mei,2008
Diarsipkan di bawah: SECANGKIR IMAJINASI
Mata hatinya menerawang ke langit. Ia rebahkan sejenak mimpi-mimpi jiwanya di kumpulan awan. Rupanya gerombolan gagak yang pulang tergesa-gesa itu merusak terawangan mata hatinya. Ia mengernyit dahi.
Diraihnya cangkir berisi teh yang tergolek miring di atas rerumputan. Diseruputnya. Tak bersela, diraihnya sebatang rokok, dikelupasnya tengahnya. Secuil daun mariyuana kering yang dipendam di secarik kertas koran, dijumputnya. Dicampurnya mariyuana bersama tembakau rokok. Dilintingnya rapi, disuluh, ditariknya dalam, sedalam terawangan mata hatinya.
Ia hempaskan peluhnya bersama hembusan asap gelek kuat-kuat, sekaligus mengusir kumpulan agas yang mondar-mandir di wajahnya. Secangkir teh dan selinting gelek cukuplah menemani sorenya.Sillam nama lelaki berkulit sawo itu. Sillam selalu mencipta puisi dan syair dari terjemahan gelek-gelek yang disuluhnya.
Tak pernah lelaki itu belajar sebagai seorang seniman yang rajin membaca buku-buku sastra. Sastra, bagi Sillam, jalan meretas kehidupan. Kehidupan yang menjadi refleksi dalam setiap puisinya. Sillam lahir dari rahim ibunya yang pengedar narkoba, bersaatan pula bapaknya tewas diterjang timah panas ketika berusaha kabur dari rumah tahanan. Saat kepala Sillam menyeruak ke muka bumi, petir sambar menyambar di atap rumahsakit. Ibunya kemudian memberi nama bayinya itu Sillam, artinya petir.
Sillam tidak munafik seperti munafiknya komunitas seniman yang mangkir dari gubahan puisi-puisi dan syair-syairnya. Yang bertopeng sastra tapi berperangai sebagai ular. Berteriak tentang ketidakadilan, tapi sebenarnya hanya seorang penjilat kelas teri. Sillam bukan seperti itu. Sillam bukan seniman, tapi setiap karyanya diacungi jempol oleh para seniman.
Sillam selalu menepis bahwa mariyuana adalah barang terkutuk. Bagi Sillam, lebih terkutuk lagi seorang penjabat yang makan uang hasil keringat rakyat. Kemudian akan lebih-lebih terkutuk lagi ketika penjabat itu mengorup uang rakyat lalu berpesta narkoba.
Atau, akan lebih-lebih sangat terkutuk ketika penjabat itu mengkorup uang rakyat, pesta narkoba, dan kemudian berzina dengan gadis yang tidak dicintainya. Namun sejatinya, akan sangat terkutuk ketika seorang seniman ingkar dari topeng seni yang melekat di wajahnya.Sillam.
Telah lama lelaki itu menjadikan mariyuana sebagai teman mengarungi hidup. Lelaki itu teramat mengenal mariyuana seperti dia mengenal dirinya sendiri. Dia adalah mariyuana. Mariyuana adalah dia. Tanpa mariyuana dia tiadalah apa-apa. Mariyuana juga tak berarti apa-apa tanpa dia.
***
Sillam meraih pena, mulai menggores puisi di buku hariannya. Di bawah sinar bulan ia mengisahkan seorang pelacur yang kabur dari lokalisasi karena terlalu sering didera sekomplotan lelaki hidung belang langganannya. Sillam mengisahkan, pelacur itu menahan sakit ketika vaginanya dirajam penis-penis yang tak pernah lelah. Penis-penis kekar yang baru akan muntah ketika efek viagra luntur.
Pelacur itu malang…
Payudaranya seperti gunung yang siap meletus
Ia tak sanggup lagi menggendong payudaranya
Vaginanya tak lagi mengeluarkan hormon
Tapi darah bersetubuh kebencian
Ia tak tahu lagi seperti apa menstruasi…
Tak tahu lagi seperti apa nikmatnya seks…
Ia hanya tahu vaginanya busuk
Tapi lelaki-lelaki berviagra itu menikmati vaginanya yang busuk
Ahk… Pelacur itu malang…
***
Selepas magrib Sillam menelusuri gang-gang di pinggiran kotanya. Sillam hafal seluk beluk peredaran gelek di pinggiran kota itu. Semua bandar gelek mengenalnya akrab, seakrab bandar gelek itu mengenali mariyuana yang diedarkannya.
Tiba di sebuah persimpangan dekat kedai kopi. Puluhan orangtua dan remaja terlibat perbincangan menarik. Perbincangan itu diadopsi dari tayangan kriminal di televisi. Seorang polisi dikatakan terlibat jaringan pengedar narkoba internasional. “Habis stok Lam? Mau berapa?” tanya seorang lelaki kurus keluar dari perbincangan begitu melihat Sillam datang.
“Empat saja Drun,” kata Sillam menatap tajam ke lelaki kurus yang dipanggil Drun sambil menyerahkan uang Rp20 ribu. Lelaki kurus itu kemudian mengeluarkan plastik kresek dari selangkangannya, lalu menyodorkan 6 ampul gelek.
“Ini bonus. Ada barang Aceh baru masuk tadi. Biusnya lumayanlah buat berilusi,” ujar lelaki itu disambut senyum oleh Sillam. Sillam melangkah meninggalkan lelaki bernama Drun itu.
***
Dewa Malam turun dari langit dengan menggenggam mimpi milik orang-orang di bumi. Mimpi buruk digenggam di tangan kirinya. Mimpi baik ada di tangan kanan. Mendarat di bumi, Dewa Malam merasuki mimpi orang-orang yang tidur. Angin mengewus hingga ke lorong waktu yang tak terjangkau pikiran. Dewa Malam merasuki lelapnya tidur Sillam. Sillam lelap sebagai anak kucing yang tidur melingkar. Ekor di kepala, kepala di ekor.
Sesekali Sillam menggeliat. Rupanya Dewa Malam menyusup tidurnya. (alvin)
Tak kutahu endingnya…
Diarsipkan di bawah: SECANGKIR IMAJINASI
PETANG ketika kujambangi dia pulang kuliah, aku sudah menyodorkan sekuntum senyum. Jantungku seliwer sangat kencang. Setelah saling pandang sejenak, aku dan dia melangkah entah ke mana. Nongkrong di cafe, atau lesehan di joglo. Akh… perasaan seperti itu tak pernah lagi kurasakan, sejak tiga tahun lalu aku pacaran dengan dia.
Lelaki itu kata dia semua buaya, tak jauh beda dengan prinsip ekonomi. Modal sedikit tapi untungnya mau banyak. Juntrungnya? Puas dengan seorang gadis maka blas! Usailah semua.
Jelasnya, percintaanku dengan dia bukan yang disebut cinta pertama. Walau aku telah mengenalnya frontal tapi aku tidak pernah mengungkapkannya. Karena aku tahu dia tak punya perasaan apa-apa padaku. Siapa yang mau sama aku— lelaki kuli tinta yang tak istimewa, jungkis, dan berambut gondrong.
Hingga suatu ketika berhembus juga berita itu ke telinga dia. Entahlah siapa yang membocorkannya. Dan sejak saat itu aku gelisah. Walau satu sisi perasaanku lega, tapi sejatinya kegelisahanku adalah: takut malu!
Sial! Benar saja. Dia mendatangi aku dengan mimik angkuh, menyemprot aku dengan kata-kata pedas. “Eh! Kalau senang sama cewek jangan jadi pengecut. Berani cuma di belakang. Tapi mulut ngerocos ke sana ke mari. Eh! Aku bilang sama kau! Jangan sok patenlah,” kata dia tajam, sukses mengiris hatiku. Sejak kejadian itu, aku sebagai ayam yang keok usai disabung. Tapi harus kuakui, aku jadi sering memperhatikan dia.
Ya.. harus kuakui, dia wanita tercantik di bumi tempat tinggalku. Teman-temanku juga banyak yang setuju dengan kecantikan dia. Matanya bulat berbinar-binar, alisnya panjang beriring, pipinya merah rona merona, dan akh… bibirnya berwarna merah jambu. Tapi entahlah kenapa, sejak kata-kata pedas dia padaku, dia menjelma sebagai wanita kalem, sopan, dan… wajahnya semakin manis saja. Terlebih jika kebetulan aku dan dia berada dalam satu pertemuan. Tingkah dia semakin saja aneh.
Entahlah dia mulai tergugah atau merasa bersalah. Jelasnya kubiarkan hatiku mengekor di hati dia, dan pada akhirnya dia terjebak, masuk perangkap. Singkat cerita aku dan dia sudah saling sapa. Ngobrolin apa saja, mulai cerpennya Seno Gumira Aji Dharma, novelnya Ahmad Tohari, sampai ngebahas sepakbola. Ternyata aku dan dia punya kesamaan hobi.
Jujur saja! Aku heran kenapa aku bisa sedekat ini dengan dia. Padahal kalau kuingat pacar-pacar dia yang dulu, jauh dan sangat jauh lebih tampan dari aku. Jika aku dapat poin lima, maka mantan pacar-pacar dia itu dapat poin delapan. Tapi sekali lagi, Jujur! Aku heran kenapa aku bisa berpacaran dengan dia. Dan ketika itu kujadikan pertanyaan? Dia cuma bilang: ‘Kau lelaki jujur’. Aku besar kepala.
Akh…sekarang aku tidak lagi bersama dia. Walau tak ada kata-kata putus, kami sudah jalan sendiri-sendiri. Tak ada komunikasi. Tapi kudengar-dengar dia sudah punya pacar baru. Kata yang kudengar-dengar itu, pacar baru dia kerja di perusahaan handphone.
Aku harus jujur. Ketika berita itu menjambangiku untuk yang pertama kali, aku sebagai lelaki gila. Kupecahkan malam, kusepak bintang, kulempar bulan. Aku menjadi lelaki temprament. Mulai bermurung dan sensitif terhadap kebisingan.
Tak terasa menit mengejar hari mendatangi bulan dan menyapa tahun. Rupanya waktu terlalu cepat berputar. Hari ini, tepat tiga tahun setelah aku tak pernah lagi bertemu dengan dia, aku kembali ke kampung halaman, berdiri lesu di gundukan tanah di depan rumah dia. Tubuhku menyongsong di depan rumah dia. Tak kulepas mata melototi teras rumah yang dipijari lampu neon warna merah dengan seperangkat meja-kursi– di atasnya sebuah vas dengan sejemput mawar putih. Dulu di teras itu, sebelum kami pergi kencan, aku menunggu dia berkemas merias.
Jika mengenangnya aku cuma bisa senyam-senyum dalam hati. Bila masa teringat dia marah? Aura dia sebagai es menghadapi aku. Biar begitu, aku bukannya berusaha mencairkan suasana, malah aku lebih dingin lagi sebagai salju. Memang aku tahu akibatnya pasti buruk, dia merajuk, wajahnya layu, hingga kemudian kakinya menghentak bumi lalu masuk ke dalam rumah meninggalkan aku dengan wajah tajam. Padahal masalahnya sepele: telat ngajak dia kencan.
Perangai dia itu jualah yang yang mempengaruhi aku untuk mulai berani selingkuh. Hingga akhirnya tak ada lagi kusisakan buat kencan dengan dia, sejak aku harus bertugas di luar kota dan pacaran dengan seorang mahasiswi yang jauh lebih dewasa dari dia.
Sekarang kupandangi sekeliling rumah dia. Tak ada yang asing. Semua masih seperti dulu, hanya saja tak kutemukan lagi jejeran bunga mawar bervas putih, berjejer di tepian tembok teras samping rumah dia. Akh… terbayang lagi momen-momen indah bersama dia. Wajah dia yang sejuk itu saja sudah membuat nafasku naik-turun. Apalagi saat mengenang awal pacaran, rasanya aku sangat bangga menjadi jodohnya.
“Tak usah dikenang lagi, kan sudah lama berlalu,” kata dia ketika aku dipersilahkan masuk dan duduk di teras rumah. “Iya, aku sudah tak ingat lagi kok,” kataku pula, bermimik misteri.
Sial! Tak berapa lama aku ketika hendak berbagi nostalgia, sekelebat sepedamotor parkir di depan teras. Aku sempat menutupi wajah dengan tangan kiri karena sorot lampu sepedamotor itu menyiprak wajahku. Seorang lelaki bergaya parlente turun lalu mendatangi kami.
“Maaf aku telat, banku bocor dan terpaksa kutempel di simpang sana,” kata lelaki itu dengan koreografi percaya diri, tentu bukan ditujukan kepada aku. “Ayolah kita pergi biar nanti pulangnya tak kemalaman,” kata lelaki itu lagi, lagi-lagi dengan koreografi percaya diri.
Kulihat dia belum beranjak, “maaf aku harus pulang,” kubilang singkat dengan wajah serius. Dia dan lelaki itu memandangiku, tapi dia tidak menjawab, malah masuk ke dalam rumah. Lima menit kemudian dia keluar dengan riasan apa adanya, tak seperti riasan ketika aku mengajaknya kencan. “Yuk biar jangan kemalaman nanti,” kata dia ke lelaki itu dengan sesekali menyibak rambutnya yang hendak diikat.
Aku hanya termangu memandang kepergian dia bersama lelaki itu. Aku pun melangkah menyeret malam. Kepergian dia berubah geram di hatiku. Tak kurasa lagi getaran-getaran indah ketika bersama dia. Kujambret sebiji kerikil kulempar ke arah dua ekor kucing yang sibuk berkelahi dengan suara gaduh. Dasar kucing! Bukannya kabur malah bertambah gaduh. Geram! Kudatangi, kusepak seekor. Ngewong! Kedua kucing itu kabur.
Hingga kemudian, ketika aku hendak beranjak dari rumah dia, telingaku menangkap derap langkah tergesa-gesa. Ternyata dia. Kuterka dia hendak menjemput sesuatu yang tertinggal di rumah. Tapi tidak, dengan wajah angkuh dia mencengkeram lenganku, menarik aku ke samping rumahnya. Ditinjunya dadaku berulang-ulang sekuat tenaga. Diremasnya rambutku dengan jambakan kencang.
Ditendangnya pagar bambu yang ada di sampingku, sampai roboh. Lalu dia menangis memecah malam. “Kalau kau masih membiarkan aku dijemput lelaki itu, aku bersumpah tak akan pernah mencintaimu lagi! Kalau kau masih membiarkan dia mengapeliku, aku bersumpah akan mencincangmu! Akan kulenyapkan kau dari bumi ini. Tau…!”
Kepala dia menempel di dadaku, dan ketika kuangkat kepala dia, aku menemukan sepasang pipi merah rona merona, mata bulat lembab menganak sungai, alis panjang beriring naik-turun. Akh… perasaan yang membuat jantungnya seliwer sangat kencang. Persis seperti dulu, saat aku mengenal dia tiga tahun lalu, sore-sore ketika kujambangi dia pulang kuliah. ***
terinspirasi Seno G Aji Darma
Tomuan—27 Juli’06
Diarsipkan di bawah: SECANGKIR IMAJINASI
Namaku Jipank. Pekerjaanku musisi reage keliling dan bandar ganja. Sebelah bola mataku yang kiri punya pupil yang tak hitam. Jika kau melihatnya, kau pasti bisa membedakannya.
Tanggungjawabku menafkahi tiga orang anak dan seorang istri. Mereka bahagia bersamaku. Aku juga bahagia bersama mereka. Seperti bahagianya aku ketika ngeganja.
Aku? Sangat menghargai daun, bunga, dan biji ganja. Bagiku, ngeganja adalah meditasi sekaligus gaya hidup. Tentu, gaya hidup yang terselubung, namun merasuki semua kalangan: jet set yang bergelimang harta sampai kelas bawah; miskin dan bodoh. Tapi maaf, aku tak mengomsumsi drugs and alcohol. Apalagi menjualnya.
Aku harus katakan, dengan ngeganja, terbentuklah sebuah komunitas. Komunitas itulah yang disebut kumpulan pengisap ganja yang cara bergaulnya berbeda dari pergaulan biasanya. Di sini, ngeganja akan sangat kental rasa persaudaraan. Sebab, di sini, selinting ganja dihisap bergilir dan ditarik dalam. Terjemahkanlah.
Aku juga harus katakan, sangat dan sangat banyak untuk disebutkan mereka-mereka yang terinspirasi dari ngeganja. Mereka itu berani menyuarakan isi hati yang berontak yang selalu ingin didengar. Bukan hanya sekedar pamer belaka, tapi didasari kekuatan nurani dan jiwa yang frontal.
Apakah aku harus sebutkan satu per satu apa yang mereka idealismekan? Atau maha karya seni yang lahir lewat nurani mereka? Kurasa tak perlu. Aku yakin kau juga sudah tahu. Jika kau tak tahu siapa-siapa saja mereka, kau sepertinya bukan orang yang tepat untuk tetap di sini.* * *
Malam mulai cantik seperti bidadari baru selesai keramas. Aku mangkal di gang tak jauh dari gubukku yang indah. Menunggu teman-temanku yang ingin meditasi. Menunggu dengan sabar sampai mereka menjulurkan uang lima ribuan atau uang dua puluh ribuan.
Tapi aku tak berlama-lama menunggu mereka. Aku punya jadwal ketat. Harus sigap akan bahaya yang seperti kucing menerkam tikus. Sebab, ada saja yang menyaru sebagai teman. Padahal hanya akan menjeratku dengan garis-garis hukum. Membelengguku di tempat pengap, amis, dan bau. Seperti kandang babi.
Setelah malam membuka tabirnya dan bintang menyibak rambutnya seperti kunang-kunang, maka aku harus pulang. Teman-temanku sudah meditasi; merenungi hidup, merenungi cinta, dan merenungi hari esok yang entah bagaimana endingnya.
Ya, aku, harus pulang. Bercengkrama bersama anak-anakku jika mereka belum tidur. Mengajari mereka cara mengendus aroma malam. Mendongengi mereka agar mengenali wajah dewi mimpi. Atau, aku akan bercinta dengan istriku yang wajahnya mirip bunga melati.
Ganja. Akh… kenapa harus dilarang? Bukankah ganja tumbuh karena hembusan nafas Sang Khalik? Jika memang merusak otak, membikin bego, menjadikan pemalas, kenapa Bob Marley bisa menyatukan cinta dan perdamaian lewat lintingan daun ganja. Menyatukan dua politikus yang selalu berseberangan lewat sebuah konser musik yang menjadi catatan sejarah di benua hitam, Jamaika.
Atau, apa alasan Whitney Houston ketika tertangkap menyaku ganja di laci mobilnya. Kenapa Kaka dan Bim-Bim menjadi rocker paling tersohor di pertiwi ini. Juga Mick Jagger dan Keith Ricard, Ozzy Osborne, Jim Morisson, Kurt Cobain. Apa alasan mereka mengomsumsi ganja. Adakah mereka menjadi liar? Tidak! Jika pun mereka liar tak lebih hanya karena sakaw oleh drugs. Aku tak diperbudak oleh ganja. Jadi aku yakin ganja tidak merusak otakku. Semua aktivitas yang kutelusuri mengalir seperti air. Aku tak bodoh oleh ganja. Malah, ngeganja membuatku semakin merenungi hidup. Punya imajinasi positif. Menjauhkan amarah. Mengasihi sesama. Mendekatkanku kepada Sang Khalik.
Ya. Ngeganja telah mempengaruhi pola pikirku. Mempengaruhi cara pandangku. Aku lebih fokus menilai sesuatu hal. Aku menilai menggunakan hati. Hati nurani.Aku tahu, ngeganja akan memperlemah memori otak, mempengaruhi bentuk fisik akibat racun kimia yang dihasilkan dari kemurnian ganja. Tapi, ganja bisa mengobati kanker dan tumor. Akar dan batangnya mujarab menyembuhkan disentri, anthrax, asma, sampai bronchitis. Di Aceh, biji ganja diracik sebagai bumbu masakan.
Kau bisa bilang aku edan karena aku mencari Sang Khalik dengan ngeganja. Itu karena aku yakin Sang Khalik menciptakan ganja bukan tanpa arti. Sejatinya, kembali ke diri masing-masing. Aku? Merenungi dosa yang kulakukan. Merenungi peranku sebagai seorang ayah dan seorang suami.* * *
Malam menjadi. Kumpulan bintang menggugus semakin lebat mengitar-itar di langit. Cahaya bulan memeluk imajinasiku. Usai mentas di kafe, aku akhirnya tiba digubukku yang indah.
Di balik malam yang bersayap, selinting ganja habis, tinggal puntungan. Kurogoh anak saku celanaku untuk menemukan ampulan daun ganja dan masbrand. Kujambret secarik masbrand. Kutarik sebatang kretek dari bungkusnya. Tembakau dan daun ganja kutebar di atas masbrand. Kulinting rapi. Kubalut dengan air liur. Kusuluh. Kutarik dalam. Sedalam imajinasiku menerawang.Handphoneku berdering. Nama Abdullah muncul di layar, pemasok ganja asal Aceh.
“Pank, besok bayamnya masuk. Tapi tak banyak. Sekarang lagi gencar razia di perbatasan Aceh-Sumatera. Bayamnya cuma lima batu. Untukmu satu batu, yang lain kau antarlah ke tempat biasa.
”Aku bicara sekena perlu saja. “Baik Dul.”Kumandang azan dari corong masjid membangunkan tidurku yang melingkar. Kepala di kaki-kaki di kepala. Aku bergegas berwudhu. Istriku yang wajahnya mirip bunga melati itu baru saja menyelesaikan wudhunya. Kami melangkah ke masjid. Istriku memang selalu menuntunku menemuiNya.
Subuh berjamaah usai. Aku menyeret pagi menuju gubukku yang indah. Kutemui anak-anakku yang masih tertidur pulas, lalu pergi sejenak meninggalkan mereka. Menjemput pesanan Abdullah.Terik menyegat kulit. Abu bertebaran menciumi wajah. Bus patas antar lintas Sumatera merapat ke terminal Parluasan. Satu per satu penumpang turun dengan wajah lelah.
Mataku meloroti satu per satu penumpang yang turun hendak mengisi perut atau sebarang mencari oleh-oleh di kota bertabur becak BSA ini.
“Ada titipan untukku lae?” kutanya pada sopir.
“Ada lae. Ambil saja di bagasi paling sudut. Tasnya ransel warna hitam. Abdullah berpesan untuk diantar ke tempat biasa,” kata si sopir sambil menjulurkan sebatang kretek. Matanya awas.
“Terimakasih lae,” kataku menyuluh kretek yang diberinya, “aku ambil bayamnya, tak baik berlama-lama.”
Aku sudah memundak ransel hitam berhuni ganja itu. Mataku meraun ke sekeliling. Kupingku kupasang biar tajam. Indera keenamku kulepas ke langit menemui dewi keberuntungan.
“Cak, Gang Kopral,” kataku mencegat becak yang suaranya sebagai halilintar, agar mengantarku ke gubukku yang indah. Ransel kupangku.
Becak BSA melaju menggenjot-genjot di atas aspal mulus. Abang becak tak mau melepas rokoknya yang makin mengecil dihisap angin. Aku tak sabar untuk tiba di gubukku.
Becak melaju lima puluh meter, tiba-tiba kaki kiri si abang becak mengocok-ngocok rem mengelak truk yang tiba-tiba berhenti.
“Yang gilaknya sopir truk ini. Huh! Untung saja. Kalau tidak, kita jadi ikan asin!” sumpah serapah si abang becak sambil melompat dari becak hendak memrotes si sopir truk.Tapi baru beberapa langkah, entah kenapa, urung. “Gara-gara razia lalu lintas rupanya,” katanya berbalik seratus delapan puluh derajad lalu menunggangi becaknya.
“Razia? Razia apa bang,” kutanya. “Mungkin razia surat-surat kendaraan. Tapi kok penumpang-penumpang diturunkan. Bagasi mobil diperiksa. Tas dan barang-barang penumpang juga digeledah,” katanya mengikuti laju truk yang pelan, yang nyaris menghilangkan nyawa kami berdua itu.
“Ah… ini razia narkoba,” katanya.
“Apa bang!” kutanya tegas tapi jantungku seliwer kencang. Kepalaku mengintip dari pintu becak. Mataku coba menangkap peristiwa yang ada di depan. “Sial!” gumamku.
Becak melaju pelan dan semakin mendekati gerombolan polisi yang menggelar razia. Untuk segera turun dari becak sudah tak mungkin. Aku khawatir si abang becak curiga gerak-gerikku sehingga menyulut perhatian para polisi. Mampuslah aku! Tapi, dengan terus berada di dalam becak, juga tak mungkin. Ah, serba salah. Apa yang harus kulakukan. Tinggal dua mobil lagi, maka giliranku.
Aku mulai resah. Buliran keringat merosot dari keningku. Otakku tak berfungsi. Cepat-cepat ransel kusembunyikan di balik tubuhku. Tinggal satu mobil, maka giliranku.
Aku pasrah. Tapi… brak! Aku terjungkal. Becak menghantam mobil yang ada di depan. Rupanya sekelebat truk menyeruduk becak yang kutumpangi. Becak terbalik. Kepala si abang becak bocor. Darah mengucur deras. Ia merintih berusaha bangkit. Tapi lunglai, lalu pingsan.
Lengkingan pluit silih berganti. Tiga polisi bersicepat memberikan pertolongan. Polisi yang lain sibuk mengatur lalu lintas yang macet total. Si abang becak diangkut ke atas mobil. Mobil melaju kencang, meninggalkan asap putih tebal yang keluar dari corong knalpot.
Aku masih sadar. Tapi kepalaku juga bocor. Darah juga mengucur deras. Tubuhku juga lunglai. Tapi aku belum pingsan.Dua orang polisi mengeluarkanku dari dalam becak, lalu menggotongku masuk ke dalam mobil.
“Pak, tas…” kubilang tapi disela.
“Tak usah pikirkan yang lain. Tas aman bersama kami. Kamu harus segera tiba di rumahsakit,” kata salah seorang polisi berperut buncit sambil memanggul tasku dan menaruhnya di dalam mobil patroli. Aku pingsan.* * *
Mataku mendapati istri dan dua anakku tertidur di bawah kakiku. Aku merintih. Istriku terjaga.
“Abang! Bagaimana kondisi abang,” istriku resah. Rautnya yang mirip bunga melati itu layu sebagai tak tersiram hujan. Ketiga anakku terbangun, lalu ikut menangis seperti ibunya.
“Kepalaku masih oyong,” kataku memegangi kepala yang dibalut perban. Istriku terus menangis. Dia menciumi pipiku, bibirku, leherku. Air matanya menyatu di wajahku.
“Bagaimana kondisi si abang becak dek?”
“Sudah bisa pulang bang. Keluarganya yang menjemput.”
“Syukurlah.”
“Abang juga mau pulang.”
“Jangan bang. Biarkan diperiksa dokter dulu.”
“Aku tak apa-apa. Cuma oyong saja. Istirahat di rumah saja.”
“Biarlah abang di sini dulu barang semalam. Biar dokter periksa abang. Jangan ambil resiko bang. Abang harus bermalam!” ujar istriku tegas.
“Siapa yang bayar perobatan?”
“Aku akan cari pinjaman.”
“Tak usahlah. Biar abang pulang saja.”
“Tidak bang, abang harus menginap.”Malam merambah kamar rumah sakit tempatku dirawat. Tapi sedari siang aku tak bisa memejamkan mata. Pikiranku melayang. Kantukku tak hadir memikirkan keberadaan tasku yang berisi 5 kilo ganja itu.
“Dek,” kataku berbisik. Istriku mendekat. Tapi aku ragu mengatakannya.
“Ada apa bang.”
“Sudahlah, tak ada yang perlu.”
“Bilang bang jika ada yang mengganjal.”Aku risau, ragu. Semua berkecamuk! Haruskah aku katakan. Haruskah istriku yang wajahnya mirip bunga melati ini… Akh… tolong Tuhan.
Dokter tua datang bersama dua perawat. Ia menanyaiku. Kujawab aku tak apa-apa. Setelah kondisiku diperiksa, dokter itu bilang besok pagi aku sudah bisa pulang. “Terima kasih dok,” kubilang.Lagi-lagi aku tak bisa tidur. Kantuk tak jua hadir. Buntu, aku berbisik kepada istriku.
“Dek, tasku ada sama polisi.”
“Baik bang, besok aku ambil ya, sekarang abang tidur.”
“Isinya ganja. 5 kilo.”
“Apa bang!”“Entahlah. Aku bingung sekarang. Bagaimana ini?
”Istriku resah mendengar semua ceritaku. Tapi ia tetap berusaha tenang. “Biar aku saja yang ambil bang.”
“Jangan. Abang saja yang ambil. Tak usah bang. Biar aku saja. Kalau aku yang ambil mereka tak securiga kalau abang yang ambil.”Kami berdebat lama. Tapi akhirnya aku mengalah. Bukan berarti aku pengecut. Bukan. Aku pun tertidur.* * *
Seberkas sinar mentari sebesar uang logam menembus jendela kamar rumah sakit. Lurus seperti kristal maya yang jatuh ke pipiku. Aku terjaga. Kudapati tiga orang polisi berseragam lengkap menjinjing tas ranselku dan sibuk bicara dengan istriku yang wajahnya mirip bunga melati itu dari balik jendela.***