Diarsipkan di bawah: KULINER NEWS
Dahaga para pecinta musik rock di kota Siantar lepas setelah menyaksikan konser band rock asal Jakarta, Slank, yang tampil atraktif selama hampir 2 jam. Sebuah konser bertata panggung sederhana, namun meninggalkan banyak pesan moral bagi kaula muda.
Hujan deras mengguyur Kota Siantar sejak petang hingga malam, Sabtu (3/11) akhir tahun lalu. Namun, bergerombolan anak muda tak menghiraukan curah hujan yang membasahkuyupkan tubuh mereka itu. Serupa, iring-iringan angkutan umum yang mengangkut puluhan anak muda melebihi kapasitas— duduk di atap mopen— mengibar-ibarkan bendera Slank. Mereka para Slankers (sebutan untuk fans Slank) yang hendak menyaksikan konser Slank di Lapangan Yonif 122 Tombak Sakti, Siantar Marihat.
Konser molor dari jadwal yang katanya on time pukul 19.00 WIB, tapi baru dimulai sekitar pukul 20.00 WIB. Bisa dimaklumi, selain pengaruh cuaca, lapangan di sekitar lokasi konser becek. Penonton yang datang juga masih minim di pukul 19.00 WIB itu. Belum lagi lokasi konser jauh dari pusat kota.Adalah Melanie Subono and Band yang menjadi opening konser.
Membuka konser dengan sambutan ’Horas’, sang vocalis, Melanie Subono—anak Adrie Subono, pendiri Java Musikindo, juga seorang promotor yang sering mendatangkan musikus terkenal mancanegara manggung di Indonesia, tampil kurang nendang. Maklum, lagu-lagu Melanie Subono yang dicomot dari dua album mereka; Myself dan Metamorfosa, masih terdengar asing di telinga penonton. Hanya lagu berjudul ’Lagi Gampangan’ dan ’Gue Rock N Roll’ yang lumayan mendapat respon.
Begitupun, jalannya konser yang masih tetap diguyur hujan itu berlangsung damai. Bahkan dari arah penonton, Melanie dihadiahi sebiji kondom. Melanie menyambut positif hadiah janggal dari penonton itu, dan menerjemahkannya bahwa menggunakan kondom akan bisa meminimalisir penderita HIV/AIDS.
Konser Melanie Subono, salahsatunya membawakan lagu grub band punk asal Amerika, Green Day, berjudul Basket Case. Tapi walau konser Melanie masih berjalan, permintaan agar Slank segera tampil terus mengucur. Penonton rupanya tak sabaran lagi. Dan begitu Melanie Subono and Band undur diri, seketika penonton histeris begitu mengetahui kelima personil Slank: Bimbim (drum), Kaka (vokal), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan Abdee (gitar), masuk ke panggung dan langsung menggeber dengan lagu rock, ’I Miss U But I Hate U’. Penonton berjingkrak sambil mengikuti Kaka bernyanyi. Suasana pun menggelegar.
Nyaris tak ada jeda karena Slank kembali menggeber panggung yang disaksikan sekitar sembilan ribu orang penonton itu. Mulai lagu: Gara-gara Kamu, Mars Slankers, Mawar Merah, Tong Kosong, Balikin, Slow But Sure, Virus, Maafkanlah, Terlalu Manis, Orkes Sakit Hati, Sosial Betawi Yoi (SBY), Ku Tak Bisa, dan OST Get Married, digeber dengan sound berkekuatan 60 ribu watt, dan tata lampu 100 ribu watt.
Yang menarik untuk dicatat, tak ada kerusuhan. Konser berjalan damai. Karena selain sang vocalis, Kaka, mampu meredam emosi penonton dengan gaya bicaranya yang slenge’an, personil TNI dan kepolisian sudah berjaga-jaga di sekitar panggung. Kaka menyebut bahwa kerusuhan bukanlah ciri dari Slankers. Bagai dicucuk hidungnya, para Slankers yang sebagian besar kaula muda, manggut. Tak ada perbuatan anarkis— tidak seperti ketika pertama kali Slank nampil di Sangnawaluh. Wajah Kaka sempat dilempar lumpur.
”Gua tau cuaca lagi hujan. Dingin. Tapi gua harap sama kalian semua yang datang kemari bersama pacarnya untuk bisa menahan diri. Kalau ’pengen’ jangan lupa pakai kondom. Apalagi ini masih bulan peringatan hari AIDS sedunia,” kata Kaka disambut tepuk tangan penonton.Tak ada catatan buruk selama konser berlangsung. Penonton yang membawa sepedamotor disediakan lokasi parkir yang cukup luas di sisi kanan pentas. Hanya saja tiket parkir lumayan besar yaitu Rp3 ribu per sepedamotor. Sementara tiket masuk Rp15 ribu.
”Benar-benar puas. Sudah lama grub band rock macam Slank tak mampir ke Siantar. Padahal penggemar musik rock tak kalah banyak dibanding penggemar musik pop. Kalau bisa, didatangkan lagi band rock papan atas ke Siantar seperti Jamrud, Power Metal, atau Boomerang,” kata Lindung Sibarani, warga Jalan Pane usai menyaksikan konser. Ayo siapa berani? (alvin)
Diarsipkan di bawah: KULINER NEWS
Kecamatan Balige Kabupaten Toba Samosir (Tobasa) dikarunia panorama pantai yang indah. Sekalian menunggu sunset, ikan mas panggang berbumbu andaliman menjadi pemikat wisatawan untuk bersinggah. Sayang, walau menjanjikan, Pemkab Tobasa masih setengah hati mendorong kemajuan wisatanya.
Setelah Kecamatan Porsea, Balige menjadi sentra pemerintahan di Kabupaten Tobasa. Jika Porsea familiar dengan pasar rakyat ‘Onan Tombis’, Balige adalah ibu kota Tobasa yang juga punya ‘Onan Raja’. Kedua pasar rakyat ini ramai didatangi saudagar-saudagar dari hampir seluruh desa yang ada di Tobasa, bahkan dari Kabupaten Taput, Samosir, Kota Siantar, hingga Kabupaten Simalungun.
Luas wilayah Tobasa adalah 2.021,80 km2 dari daratan dan 1.102,60 km2 dari luas perairan Danau Toba. Jumlah penduduknya 167.907 jiwa dengan mata pencaharian unggulan bertani (mencapai 80 persen). Indrustri wisata sendiri baru dilirik sejak 10 tahun terakhir.
Mengandalkan keindahan pantai dan budidaya ikan mas, masyarakat di Balige terutama di sepanjang Desa Lumban Silintong mulai melirik potensi ini untuk mengangkat taraf ekonominya. Namun geliat wisata baru terasa di tiga tahun terakhir.
Menunggu Sunset di Tara Bunga
Sore di Desa Tara Bunga pukul 18.15. Dari atas bukit di bibir pantai Danau Toba, matahari hendak pulang ke peraduan. Langit mulai gelap dengan rona merah berpencar-pencar. Gumpalan awan putih bersih bergulung-gulung diterpa sinaran mentari. Sunset di Tara Bunga sungguh indah.
Untuk berada di Tara Bunga, lebih dulu melewati Desa Lumban Silintong yang persis berada di pinggiran Kota Balige. Jarak tempuhnya sekitar 10 menit, menyusuri cafe-cafe pinggir pantai tapi dengan jalan aspal yang sudah kupak-kapik. Sesekali, di jalanan bisa ditemui segerombolan kerbau yang digiring pulang oleh seorang gembala.
Saat menyusuri jalanan menuju Tara Bunga, pemandangan Danau Toba menjadi daya pikat, di samping cuaca yang sangat sejuk (namun dingin menusuk tulang). Dan bila sudah tiba di Desa Tara Bunga, dari puncak bukit bisa disaksikan matahari yang hendak pulang keperaduan, perlahan-lahan menghilang seperti ditelan Danau Toba.
Usai menyaksikan sunset di Tara Bunga, Desa Lumban Silintong menjadi pilihan untuk bersantai. Jejeran cafe di bibir pantai yang menyuguhkan ikan mas panggang khas Batak dengan bumbu andaliman menjadi daya tarik untuk bersinggah. Apalagi ikan mas yang disediakan masih segar, diambil dari penangkarannya di pantai. Dari Lumban Silintong juga bisa disaksikan pemandangan Kota Balige di malam hari. Lampu-lampu kota siluet di atas air.
Hanya saja tak semua cafe menyuguhkan ketenangan karena ada beberapa cafe yang berubah fungsi menjadi tempat mabuk-mabukan bahkan ajang prostitusi. Aparat kepolisian yang sering melakukan sweeping tak jarang mendapati beberapa perempuan penjaja cinta di beberapa cafe. Indikasi ini setidaknya membenarkan bahwa Kabupaten Tobasa menjadi salahsatu daerah yang berpotensi menyebarkan HIV/AIDS.
Pemkab Kurang Serius
Walau salah satu Renstra (Rencana Strategis) Bupati Tobasa adalah mengangkat potensi wisata, sejatinya curahan perhatian pemerintah masih setengah-setengah. Sarana jalan yang menjadi faktor pendukung kemajuan wisata belum tersentuh pembangunan yang layak, khususnya di sepanjang bibir Danau Toba mulai Desa Lumban Silitong, Tara Bunga, hingga ke Meat. Padahal, jarak tempuh dari Kota Balige ke desa tersebut cuma berkisar 5 sampai 30 menit.
“Kita memang berharap agar jalan bisa diperbaiki. Setidaknya akan semakin menggeliatkan pariwisata tepi pantai ini,” kata Wina Siahaan, salah seorang pemilik cafe di Lumban Silintong, akhir pekan lalu. Wina yang merintis usahanya dari mulai nol mengatakan, obyek wisata tepi pantai cukup berpotensi dikembangkan. Pasalnya, tak banyak pilihan tempat wisata di Balige.
“Sebelumnya pantai di Balige menjadi tempat penangkaran ikan mas. Tapi sekarang sudah tak diperbolehkan karena pantai menjadi tercemar. Apalagi beberapa waktu lalu banyak ikan mas yang mati karena koy herves,” kata Wina.
Tak hanya Wina yang menghendaki agar pemerintah memperbaiki jalan menuju obyek wisata tepi pantai, L Napitupulu (35) salah seorang penarik becak juga berharap jalan menuju Lumban Silintong diperbaiki.“Akibat jalan rusak penumpang malas naik becak karena harus njot-njotan. Becak saya juga cepat rusak. Belum lagi jika musim kemarau jalanan penuh abu. Sebaiknya Pemkab bisa melihat situasi ini dan segera melakukan perbaikan,” kata Napitupulu. ***
Diarsipkan di bawah: KULINER NEWS
Di muka bumi ini, sepedamotor tua merek Birmingham Small Arm (BSA) yang masih tegar menjelajah jalanan hanya ada di Kota Pematangsiantar.
Birmingham Small Arm (BSA) adalah sepedamotor pabrikan Inggris yang diciptakan untuk kendaraan perang. BSA masuk ke negeri gema ripah loh jenawi ini pada masa peralihan tentara Jepang ke tentara sekutu (Belanda-Inggris). BSA kemudian menyebar di setiap daerah jajahan Belanda.
“BSA adalah sisa-sisa perang dunia kedua. Belanda yang membawanya ke nusantara ini,” kata Ketua BOM’S (kumpulan pecinta BSA), Erizal Ginting. Satu pertanyaan sederhana. Kenapa kemudian BSA bisa bersarang di Siantar?
Kata Erizal Kesuma Ginting, ketika penjajah minggat dari Indonesia, motor-motor BSA kehilangan tuannya. Tak ada sparepart dan teknisi yang mumpuni di Indonesia. “BSA mulai masuk tahun 1958 atas inisiatif orang-orang Siantar. Orang Siantar mendatangkannya dari pulau Jawa: Surabaya dan Jakarta. Motor BSA diangkut pakai Kapal Tampomas II. Saya mengetahuinya karena pada zaman itu Mbah Lanang menjadi salah seorang saksi sejarah yang mendatangkan BSA ke Siantar ini,” tukas Erizal.
Mbah Lanang sendiri adalah sesepuh di pengurusan BOM’S. Selain mengetuai BOM’S, Erizal Ginting adalah seorang kolektor. Di rumah budayawan Siantar ini tersimpan sepeda BSA tahun 1937, motor BSA M20 bermesin 500 cc tahun 1940, BSA 2B31 bermesin 350 cc tahun 1953, Vespa bermesin 150 cc tahun 1957, dan Vespa Kongo tahun 1960.
Dikatakan Erizal, Kota Siantar menjadi surga bagi para kolektor motor-motor tua khususnya bermerek BSA. Sebagian besar para kolektor datang dari pulau Jawa. “Kolektor-kolektor itu terdiri dari pejabat pemerintahan. Perwira TNI yang telah pensiun sampai kepada selebritis. Anang Krisdayanti sendiri menjadi salah seorang kolektor motor BSA. Saya pernah bertemu Anang di Jakarta dan melihat motor BSA-nya,” ujar Erizal.
Sebagai seorang kolektor, Erizal mengetahui persis harga pasaran seunit motor BSA di Kota Siantar. Untuk BSA standar (belum modivikasi) harganya mencapai Rp15-Rp20 juta. Sedangkan untuk motor BSA standar original harganya berkisar Rp20-Rp30 juta.
Kata Erizal, Kota Siantar adalah kota paling banyak menyimpan motor BSA dengan jumlah sekitar seribu unit. Inggris sebagai pembuat motor BSA hanya memiliki motor BSA sekitar delapan ratus unit, disusul Australia empat ratus unit, Firlandia dua ratus lima puluh unit. Dan sekarang kata Erizal, sedang mewabah club-club motor BSA di seluruh dunia.
“Ini bukan sekedar cerita. Saya punya bukunya. Malaysia yang hanya memiliki seratusan BSA saja sudah mulai menggalakan clubnya BSA untuk mendorong pariwisata,” kata Erizal sambil menyodorkan majalah otomotif terbitan Malaysia.
Tapi kata Erizal, keberlangsungan motor BSA di Kota Siantar sempat hendak dihilangkan oleh oknum-oknum yang hanya memikirkan keuntungan pribadi. Alasan penghapusan BSA sungguh sederhana. Motor BSA dikatakan tidak efisien dan sudah kuno (tak mengikuti perkembangan zaman, red).
“Itu terjadi bulan April dan Juli tahun 2006. Beberapa anggota dewan termasuk oknum di pemerintahan berusaha melenyapkan BSA dari situs sejarah Kota Siantar demi untuk menggolkan kepentingan penguasa. Kenapa para penguasa itu tidak mengangkat potensi becak BSA untuk mengangkat wisata Siantar?” tanya Erizal.
Nah, kata Erizal, berawal dari ketertindasan itulah lahir komunitas para penggemar motor BSA yang bernama BOM’S. Selain beranggotakan para abang becak, anggota BOM’S terdiri dari hobies dan kolektor.
“Di bumi ini, motor BSA yang masih gagah dan tegar berpetualangan di jalan hanya ada di Kota Siantar. Kenapa malah mau dihapuskan dan menggantinya dengan becak-becak modern buatan Jepang. Ini sungguh ironis. Pemerintah berusaha menghapus sejarah. Padahal perlu diketahui, sebagian besar warga Siantar terdiri dari keluarga abang-abang becak,” tandas penulis buku ‘Sejarah Siantar’ ini.
Yang menarik untuk disimak, ketika motor BSA dibawa keluar dari kota Siantar, beberapa tahun kemudian motor BSA itu kembali ke Kota Siantar. Penyebabnya karena di luar Siantar tidak mudah mencari teknisi dan sparepart. “Cuma di Siantar ada pabrik onderdil becak dan teknisi-teknisi andal. Nah, ketika BSA itu rusak terpaksa dipanggil teknisi dari Siantar untuk memperbaiki. Tak sedikit motor BSA yang terpaksa kembali ke Siantar,” katanya.
Erizal berharap, Pematangsiantar sebagai kota nomor dua terbesar di Sumatera Utara tidak hanya sebagai kota transit, pintu gerbang pariwisata. Potensi sejarah harus dapat menjadikan Pematangsiantar sebagai kota pariwisata. Terbukti memang, perayaan ulang tahun BOM’S dan SSC yang di pusatkan di Lapangan Haji Adam Malik, Minggu (8/7) lalu dirayakan dengan sangat meriah.
Bisa dikatakan sepanjang sejarah berdirinya komunitas motor tua di Kota Siantar, baru kali itulah perayaannya dihadiri 20-an club penggemar motor tua berbagai merek, Vespa tua, motor lawas buatan Jepang sampai club motor roda empat yang datang dari penjuru sumatera, bahkan dari Kota Yogyakarta.
Di situ pula bisa ditemukan motor tua merek lain seperti BMW, Ducati. Norton, Ariel, DKW, BSA, sampai Honda yang masih original. Jika direnungi, ini petanda baik bagi pemerintah kota. Sebab, dengan even seremoni sekelas ulang tahun saja, panitia penyelenggara bisa mendatangkan pengunjung (bikers, red) dalam jumlah tiga ribuan. Bagaimana jika dikelola dengan baik, semisal dibuat kalender wisata, tentu akan bisa mengangkat dunia pariwisata Siantar yang selama ini hanya sebagai pintu gerbang wisata.
“Hotel akan penuh. Lowongan kerja bisa tercipta. Pemerintah juga kebagian untung karena ada uang masuk ke PAD-nya. Saya akan tetap berjuang agar BSA punya Perda sendiri dan menjadi satu-satunya alat transportasi pariwisata. Selain itu BSA harus disubsidi seperti barang-barang kuno yang ada di museum,” tukas Erizal.